MERASAKAN YANG TIADA RASA

Terkirim 1 tahun yang lalu di Pendidikan.

"Allâhﷻ itu tiada rasa-rasa." -Alm. K.H. Undang Sirad | Laysa kamiṡlihi syai`un (Q.S. Asy-Syura [42]:11).

MERASAKAN YANG TIADA RASA

Lidah ialah organ pengecap karunia Allâhﷻ untuk merasakan rasa yang terkait langsung dengan organ dalaman jasad kita. Syaraf-syaraf sensorik di lidahlah yang mengirimkan sinyal rasa manis-pahit-asin-asam-kesat ke otak sehingga kita merasa merasakan rasa-rasa itu.

"Jasad itu hanya tempat untuk merasa." -Alm. K.H. Undang Sirad

Itu kenyataan syariatnya. Kenyataan terkait hakikat-makrifatnya mana? Karena syariat itu esa dengan hakikat-makrifat.

Allâhﷻ Pencipta segala tempat,
tentu mustahil Allâhﷻ bertempat atau
mustahil Allâhﷻ mengambil tempat atau
mustahil Allâhﷻ bersifat memerlukan tempat untuk keber-Ada-an-Nya.

Allâhﷻ Pencipta segala rasa,
tentu mustahil Allâhﷻ berasa atau
mutahil Allâhﷻ berupa rasa-rasa atau
mustahil Allâhﷻ dapat dirasa-rasa.

"Allâhﷻ itu tiada rasa-rasa." -Alm. K.H. Undang Sirad
Laysa kamiṡlihi syai`un (Q.S. Asy-Syura [42]:11).

Itu kenyataan hakikat-makrifatnya. Kenyataan terkait syariatnya mana? Karena hakikat-makrifat itu wajib disaksikan oleh syariat.

Penghubungnya ialah tarikat (jalan). Karena ilmu itu wajib ada jalan praktiknya.

Ini pernah Anda praktikkan sebelumnya:
Begitu lidah Anda bersentuh dengan gula, Anda akan merasakan rasa manis.
Begitu lidah Anda bersentuh dengan garam, Anda akan merasakan rasa asin.
Begitu lidah Anda bersentuh dengan jamu, Anda akan merasakan rasa pahit.
Begitu lidah Anda bersentuh dengan jeruk nipis, Anda akan merasakan rasa asam.
dll.

Penghubungnya ialah tarikat (jalan). Karena ilmu itu wajib ada jalan praktiknya.

Coba praktikkan sekarang juga:
Angkat lidah Anda melayang di dalam rongga mulut: jangan sedikit pun menempel ke lelangit mulut maupun ke dasar mulut. Layangkan lidah Anda. Apa yang Anda rasa? Tidak ada rasa.

Kalau sudah tahu rasanya rasa manis-pahit-asin-asam-kesat-dll., mustahil Anda tidak tahu rasanya yang bukan rasa manis, bukan rasa pahit, bukan rasa asin, bukan rasa asam, bukan rasa kesat, dll.

Kalau sudah mengenal rasa ini-itu,
tentu Anda bisa mengenal yang bukan rasa ini-itu.

Kalau sudah tahu rasa-rasa,
tentu Anda bisa mengenal yang bukan rasa-rasa.

Tetaplah dalam keadaan melayangkan lidah Anda itu dan hayati yang namanya tiada rasa itu.

Sudah terasa rasanya tiada rasa di lidah itu?
Ternyata hal-keadaan tiada rasa itu ada "rasanya" 'kan?!

Baik.
Sekarang kenyataan syariat pada lidah Anda itu--rasanya "rasa tiada rasa" di lidah itu--kaitkan dengan kenyataan hakikat-makrifatnya.

Yang tiada rasa-rasa itu siapa? Allâhﷻ.
Yang bukan berupa rasa-rasa itu siapa? Allâhﷻ.
Jadi ketika Anda sudah merasakan rasanya "yang tiada rasa" itu, Anda sedang beserta siapa?

Man lam ya`zawq, lam ya`rif.
"Barangsiapa tidak merasa, tidaklah ia mengenal (Allâhﷻ)".

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

● Sebelum:
Sebelum lidah Anda bersentuh dengan makanan/minuman yang berasa manis-pahit-asin-asam-kesat-dsb., Anda belum merasakan rasa manis-pahit-asin-asam-kesat-dsb.

● Sejak:
Sejak lidah Anda bersentuh dengan makanan/minuman yang berasa manis-pahit-asin-asam-kesat-dsb., Anda baru tahu rasanya rasa manis-pahit-asin-asam-kesat-dsb.

● Setelah:
Setelah makanan/minuman yang berasa manis-pahit-asin-asam-kesat-dsb. itu tuntas ditelan, Anda tidak lagi merasakan rasa manis-pahit-asin-asam-kesat-dsb.

Kembali ke awal: sebelumnya tidak merasakan rasa manis-pahit-asin-asam-kesat-dsb., setelahnya juga tidak merasakan rasa manis-pahit-asin-asam-kesat-dsb.

■ Sebelumnya tiada rasa, setelahnya juga tiada rasa.


Itu kenyataan syariatnya. Kenyataan terkait hakikat-makrifatnya mana? Karena syariat itu esa dengan hakikat-makrifat.

● Sebelum:
Awalnya Anda belum sadar bahwa makna hakiki laysa kamiṡlihi syai`un (Q.S. Asy-Syura [42]:11) itu salah satunya diuraikan sebagai "Allâhﷻ itu tiada rasa-rasa."

● Sejak:
Sejak sudah sadar akan rasanya "rasa yang tiada rasa", Anda baru merasakan lebih mengenal Allâhﷻ, lebih merasakan beserta-Allâhﷻ (billāḥi ta`ala) dibandingkan dengan sebelumnya.

● Innalillah-kan:
"Dia Yang Awal; Dia Yang Akhir." (Q.S. Al-Ḥadīd [57]:3)

■ Awalnya tiada memandang Tuhan itu rasa-rasa, akhirnya Anda mengenal bahwa Tuhan memang bukan berupa rasa-rasa. Rasa sebelum dan sesudah merasakan beserta-Allâhﷻ (billāḥi ta`ala) hampir tiada beda keadaannya: tiada rasa-rasa.

Jadi sebelum Anda sadar, sebenarnya keberadaan Anda itu senantiasa beserta-Allâhﷻ. "Di mana kamu, di situ Aku." (Q.S. Al-Ḥadīd [57]:4)

Jadi sebenarnya orang kafir dan yang sudah Islam pun senantiasa beserta-Allâhﷻ. "Allâhﷻ Maha Meliputi sekalian alam" (Q.S. Al-Fuṣṣilat [41]:54), artinya juga "Allâhﷻ meliputi orang-orang kafir" sekalipun (Q.S. Al-Baqarah [2]:115).

Inilah beda tipisnya orang berilmu dengan orang belum berilmu. Inilah beda tipisnya paham dan awam. Berbeda tipis, tetapi tipisnya itu bagaikan siang dan malam; sejarak langit dan bumi. Itu sebabnya wahyu pertama, perintah pertama, syariat pertama itu bunyinya: "IQRA!"

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Sekarang Anda sedang menjalankan ibadah Ṣaum di Bulan Ramaḍan.
Selama berpuasa itu apa yang Anda rasakan?

Kalau selama berpuasa rasa lapar-dahaga-letih yang Anda rasakan, artinya Anda baru belum berpuasa karena yang tidak berpuasa pun ada saatnya merasakan lapar-dahaga-letih.

Sekarang Anda sedang menjalankan ibadah Ṣaum di Bulan Ramaḍan.
Selama berpuasa itu apa yang Anda rasakan?

Kalau selama berpuasa hitungan pahala-surga yang Anda rasakan, artinya Anda beribadah kepada pahala dan surga, belum kepada Yang Menetapkan Pahala dan belum kepada Yang Memiliki Surga. Anda masih menyembah pahala dan surga, belum menyembah Allâhﷻ.

“Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut akan pedih siksanya, bukan takut pada Penciptanya.” [Syaikh Abdul Qadir al-Jailani r.a. dalam Faṭur-Rabbani wal Faiḍur-Raḥmāni]

Sekarang Anda sedang menjalankan ibadah Ṣaum di Bulan Ramaḍan.
Selama berpuasa itu apa yang Anda rasakan?

Kalau selama berpuasa Anda hanya merasakan Allâhﷻ saja ADA (musyahadah/pandangan hati hanya pada Allâhﷻ atau minimal mengekalkan "rasa tiada rasa" di atas tadi) itulah puasa yang bernilai syariat-tarikat-hakikat-makrifat sekaligus. Catatan malaikat dan timbangan Mizan takkan sanggup menakarnya. Allâhua`lam. InsyaAllâh. Āmīn.

Mengapa begitu?
Puasa itu syariatnya tidak makan-minum-dan bersyahwat.

Siapa yang tidak bersifat membutuhkan makan-minum dan tiada bersyahwat?
Allâhﷻ.

Itulah sebabnya difirmankan, "Puasa itu untuk-Ku."
Allâhua`lam.

الصوم لي وأنا أجزي به ، إنه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي

“Puasa hanyalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran pada-Nya secara langsung, sebab ia telah meninggalkan hawa nafsu, makan, dan minumnya karena-Ku”. (Hadis Qudsy, riwayat/versi lain dari Sahih Muslim 4/1997 dari Abu Hurairah r.a.)


Semoga kita semua, saya dan Anda semua, dikaruniai kualitas kehambaan yang sedemikian. Āmīn.

Selamat menjalankan ibadah puasa billāḥi ta`ala.



°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
■ Sebagaimana termuat di pusakamadinah.org
■ Artikel terkait: Teori dan Praktik Merasakan Ketuhanan Allâh

 

107 Lihat