Ilmu Tauhid Cover Image
User Image
Geser untuk mengatur posisi sampul
MERASAKAN YANG TIADA RASA | #IlmuTauhid #Puasa #Makrifat_Puasa
https://paziim.com/post/9693_merasakan-yang-tiada-rasa-ilmutauhid-puasa-makrifat-puasa.html

RASA IALAH PERWUJUDAN ZAT ALLÂH PADA KITA

Baca pelan-pelan dengan ketenangan, "karena bukan ilmu yang men-'jadi', melainkan kesadaran yang men-'jadi'." - K.H. Undang Sirad
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Rasa itu tiada berjasad karena rasa tidak bisa didefinisikan begini atau begitu. Kita hanya bisa menyebut "manis" tanpa bisa mendefinisikan apa itu "manis". Itulah sebabnya rasa itu dikatakan tiada berjasad, tetapi nyata adanya.

Rasa yang tiada berjasad itulah perwujudan ruh pada kita. Kalau dibalik, sebenarnya oleh sebab keberadaan ruh pada jasad kitalah makanya kita bisa merasa.

Kalaupun mau dikatakan berjasad, ruh kita itu jasad qadim, sedangkan tubuh kita itu jasad baharu/muhaddas.
supaya tidak bingung, silakan baca juga: Perbedaan Qadim - Muhaddas [https://goo.gl/e3PJso ].

Apa buktinya rasa itu perwujudan ruh?
Buktinya, rasa dan ruh sama-sama tidak bisa didefinisikan begini atau begitu.

Kita tidak bisa menyebutkan
- bentuk ruh kita itu begini-begitu;
- warna ruh kita itu apa;
- aroma ruh kita itu bagaimana;
- ruh kita itu lembut atau kasar;
- bagian-bagian dari ruh kita itu apa saja;
- ruh kita itu pada jasad bertempat di mana.
Itulah bukti bahwa ruh itu hakikat diri pribadi kita yang tidak bisa disebut [Q.S. Al-Insān [76]:1], tetapi nuata adanya.

Rasa yang tiada berjasad itulah perwujudan ruh pada kita. Kalau dibalik, sebenarnya oleh sebab keberadaan ruh pada jasad kitalah makanya kita bisa merasa.

Oleh sebab adanya ruh-lah jasad ini bisa melihat, mendengar, berkata-kata, bergerak, dsb. Dengan kesadaran ini, jadi siapa sebenarnya yang salat ketika Anda salat? Tentu ruh-lah yang salat.

Nama lain ruh ialah Zat Allâh. Jadi siapa sebenarnya yang salat ketika Anda salat? Tentu ruh/Zat Allâh-lah yang salat.

Nama lain ruh kita juga ialah Nūr Ilahi atau Cahaya Tuhan. Jadi siapa sebenarnya yang salat ketika Anda salat? Tentu Nūr Ilahi-lah yang salat.


Zat Allâh itu bukan Allâhﷻ. Sebagaimana Nūr Ilahi itu bukan Ilahi atau sebagaimana Cahaya Tuhan itu bukan Tuhan.

Tapiii....

Zat Allâh itu esa dengan Allâhﷻ. Sebagaimana Nūr Ilahi itu esa dengan Ilahi atau sebagaimana Cahaya Tuhan itu esa dengan Tuhan, Sang Pemilik Cahaya.

■ Untuk mendekatkan paham:
Matahari dengan sinarnya itu esa sebab tidak ada jeda ruang kosong yang meng-antara-i matahari dengan sinarnya.

Tubuh kita ini esa dengan ruh kita.
Ruh kita esa dengan Allâhﷻ.
Jadi jasmani-ruhani kita ini esa dengan Allâhﷻ kapan pun, di mana pun, ketika melakukan apa pun.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

"Jasad itu hanya tempat untuk merasa." -K.H. Undang Sirad.

Sebelum ini kita mengira jasad inilah yang bertakbir-rukuk-sujud, padahal rasa-lah yang sebenarnya bertakbir-ruku-sujud.

Sebelum ini kita mengira jasad inilah yang bertakbir-rukuk-sujud, padahal ruh-lah yang sebenarnya bertakbir-ruku-sujud.

Sebelum ini kita mengira jasad inilah yang bertakbir-rukuk-sujud, padahal Nūr Ilahi-lah yang sebenarnya bertakbir-ruku-sujud.

Sebelum ini kita mengira jasad inilah yang bertakbir-rukuk-sujud, padahal Zat Allâh-lah yang sebenarnya bertakbir-ruku-sujud.

Sekarang kita sadar bahwa yang bertakbir-rukuk-sujud itu rasa/ruh/Nur Ilahi/Zat Allâh yang esa dengan Allâhﷻ.

Dari kesadaran inilah mudah-mudahan kita dikaruniai Allâhﷻ mengalami sendiri rasanya hadis qudsy ini (Āmīn):
"Kif yā Muḥammad, Ana Rabbaka uṣalli."

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Pembicaraan ini erat kaitannya dengan pelajaran "Sifat 20 Zat Allâh" yang disampaikan para `arif billah dan muwwahid (ulama ahli tauhid) terdahulu.

Jadi jangan salah paham. Pelajaran "Sifat 20" bukanlah ajaran yang mengarahkan agar hamba merasa sama dengan Allâhﷻ atau hamba bisa jadi Allâhﷻ.

Pelajaran "Sifat 20 Zat Allâh" ialah jalan pemahaman agar kita menyadari dan merasakan keberadaan kita ini senantiasa kekal beserta Allâhﷻ di dalam dan di luar ibadah, bahkan dalam sakaratul maut. Inilah Ilmu Sedikit untuk Segala²nya: Dasar-Dasar Tauhid Hakiki - Jalan selamat dunia-akhirat. InsyaAllâh. Āmīn.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Artikel terkait:
● Ulasan Sifat 20 dari Alm. K.H. Undang Sirad [https://goo.gl/LB7Rnd]

● Untuk pemahaman tingkat lanjut:
Intisari Kitab Langka: Bābul Iḥsan - Salat Diri Allâh Memuji Tuhannya [https://goo.gl/vDrbmh]

Allâhua`lam.

image
Please log in to like, dislike, share and comment!
RASA IALAH PERWUJUDAN ZAT ALLÂH PADA KITA

Baca pelan-pelan dengan ketenangan, "karena bukan ilmu yang men-'jadi', melainkan kesadaran yang men-'jadi'." - K.H. Undang Sirad
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Rasa itu tiada berjasad karena rasa tidak bisa didefinisikan begini atau begitu. Kita hanya bisa menyebut "manis" tanpa bisa mendefinisikan apa itu "manis". Itulah sebabnya rasa itu dikatakan tiada berjasad, tetapi nyata adanya.

Rasa yang tiada berjasad itulah perwujudan ruh pada kita. Kalau dibalik, sebenarnya oleh sebab keberadaan ruh pada jasad kitalah makanya kita bisa merasa.

Kalaupun mau dikatakan berjasad, ruh kita itu jasad qadim, sedangkan tubuh kita itu jasad baharu/muhaddas.
supaya tidak bingung, silakan baca juga: Perbedaan Qadim - Muhaddas [https://goo.gl/e3PJso ].

Apa buktinya rasa itu perwujudan ruh?
Buktinya, rasa dan ruh sama-sama tidak bisa didefinisikan begini atau begitu.

Kita tidak bisa menyebutkan
- bentuk ruh kita itu begini-begitu;
- warna ruh kita itu apa;
- aroma ruh kita itu bagaimana;
- ruh kita itu lembut atau kasar;
- bagian-bagian dari ruh kita itu apa saja;
- ruh kita itu pada jasad bertempat di mana.
Itulah bukti bahwa ruh itu hakikat diri pribadi kita yang tidak bisa disebut [Q.S. Al-Insān [76]:1], tetapi nuata adanya.

Rasa yang tiada berjasad itulah perwujudan ruh pada kita. Kalau dibalik, sebenarnya oleh sebab keberadaan ruh pada jasad kitalah makanya kita bisa merasa.

Oleh sebab adanya ruh-lah jasad ini bisa melihat, mendengar, berkata-kata, bergerak, dsb. Dengan kesadaran ini, jadi siapa sebenarnya yang salat ketika Anda salat? Tentu ruh-lah yang salat.

Nama lain ruh ialah Zat Allâh. Jadi siapa sebenarnya yang salat ketika Anda salat? Tentu ruh/Zat Allâh-lah yang salat.

Nama lain ruh kita juga ialah Nūr Ilahi atau Cahaya Tuhan. Jadi siapa sebenarnya yang salat ketika Anda salat? Tentu Nūr Ilahi-lah yang salat.


Zat Allâh itu bukan Allâhﷻ. Sebagaimana Nūr Ilahi itu bukan Ilahi atau sebagaimana Cahaya Tuhan itu bukan Tuhan.

Tapiii....

Zat Allâh itu esa dengan Allâhﷻ. Sebagaimana Nūr Ilahi itu esa dengan Ilahi atau sebagaimana Cahaya Tuhan itu esa dengan Tuhan, Sang Pemilik Cahaya.

■ Untuk mendekatkan paham:
Matahari dengan sinarnya itu esa sebab tidak ada jeda ruang kosong yang meng-antara-i matahari dengan sinarnya.

Tubuh kita ini esa dengan ruh kita.
Ruh kita esa dengan Allâhﷻ.
Jadi jasmani-ruhani kita ini esa dengan Allâhﷻ kapan pun, di mana pun, ketika melakukan apa pun.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

"Jasad itu hanya tempat untuk merasa." -K.H. Undang Sirad.

Sebelum ini kita mengira jasad inilah yang bertakbir-rukuk-sujud, padahal rasa-lah yang sebenarnya bertakbir-ruku-sujud.

Sebelum ini kita mengira jasad inilah yang bertakbir-rukuk-sujud, padahal ruh-lah yang sebenarnya bertakbir-ruku-sujud.

Sebelum ini kita mengira jasad inilah yang bertakbir-rukuk-sujud, padahal Nūr Ilahi-lah yang sebenarnya bertakbir-ruku-sujud.

Sebelum ini kita mengira jasad inilah yang bertakbir-rukuk-sujud, padahal Zat Allâh-lah yang sebenarnya bertakbir-ruku-sujud.

Sekarang kita sadar bahwa yang bertakbir-rukuk-sujud itu rasa/ruh/Nur Ilahi/Zat Allâh yang esa dengan Allâhﷻ.

Dari kesadaran inilah mudah-mudahan kita dikaruniai Allâhﷻ mengalami sendiri rasanya hadis qudsy ini (Āmīn):
"Kif yā Muḥammad, Ana Rabbaka uṣalli."

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°

Pembicaraan ini erat kaitannya dengan pelajaran "Sifat 20 Zat Allâh" yang disampaikan para `arif billah dan muwwahid (ulama ahli tauhid) terdahulu.

Jadi jangan salah paham. Pelajaran "Sifat 20" bukanlah ajaran yang mengarahkan agar hamba merasa sama dengan Allâhﷻ atau hamba bisa jadi Allâhﷻ.

Pelajaran "Sifat 20 Zat Allâh" ialah jalan pemahaman agar kita menyadari dan merasakan keberadaan kita ini senantiasa kekal beserta Allâhﷻ di dalam dan di luar ibadah, bahkan dalam sakaratul maut. Inilah Ilmu Sedikit untuk Segala²nya: Dasar-Dasar Tauhid Hakiki - Jalan selamat dunia-akhirat. InsyaAllâh. Āmīn.

°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
Artikel terkait:
● Ulasan Sifat 20 dari Alm. K.H. Undang Sirad [https://goo.gl/LB7Rnd]

● Untuk pemahaman tingkat lanjut:
Intisari Kitab Langka: Bābul Iḥsan - Salat Diri Allâh Memuji Tuhannya [https://goo.gl/vDrbmh]

Allâhua`lam.
https://paziim.com/post/7706_rasa-ialah-perwujudan-zat-allâh-pada-kita-b-baca-pelan-pelan-dengan-ketenangan-k.html
[8] KRITERIA TUHAN YANG PASTI DITERIMA SETIAP AKAL | #IlmuTauhid
https://paziim.com/post/1319_8-kriteria-tuhan-yang-pasti-diterima-setiap-akal-ilmutauhid.html
[7] DUA HAL TENTANG TUHAN YANG HANYA ADA DI QURAN | #IlmuTauhid
https://paziim.com/post/1317_7-dua-hal-tentang-tuhan-yang-hanya-ada-di-quran-ilmutauhid.html
[6] JENJANG ILMU TAUHID: DASAR-MADYA-HAKIKI | #IlmuTauhid
https://paziim.com/post/1315_6-jenjang-ilmu-tauhid-dasar-madya-hakiki-ilmutauhid.html
  • 13 posts

  • Pria
  • Tentang saya
  • "Barangsiapa menghendaki kebaikan bagi dirinya, niscaya ia mengambil jalan kepada Tuhannya." (Q.S. Al-Insān [76]:29)

    Tugas para nabi yang utama ialah mengantarkan umat kepada Tuhannya (menegakkan kalimah tauhid), bukan mengenalkan umat pada pahala dan surga.

    Itu sebabnya setiap ada muslim yang wafat dikatakan,
    Inna lillāḥi wa inna ilaiāḥi rāji`ūn.
    Dari Allâh kembali kepada Allâh.

    bukan

    Inna lillāḥi wa inna jannati rāji`ūn
    Dari Allâh kembali ke surga.

    Demikian juga hakikatnya tugas utama setiap ulama pewaris kenabian.
  • Tautan Sosial