Keajaiban Alquran dalam Surat Al Fajr [89] Ayat 3

Terkirim 3 bulan yang lalu di Lainnya.

Surat Al-Fajar [89] ayat 3: “dan yang genap dan yang ganjil” (وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ). Huruf-huruf dalam alquran yang menyusun kata Muhammad berjumlah genap dan huruf-huruf dalam alquran yang menyusun kata Allah berjumlah ganjil.

Keajaiban Alquran dalam Surat Al Fajr [89] Ayat 3

وَٱلۡفَجۡرِ وَلَيَالٍ عَشۡرٖ وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ وَٱلَّيۡلِ إِذَا يَسۡرِ هَلۡ فِي ذَٰلِكَ قَسَمٞ لِّذِي حِجۡرٍ 

Terjemahan Sahih Internasional:

  1. By the dawn
  2. And [by] ten nights
  3. And [by] the even [number] and the odd
  4. And [by] the night when it passes,
  5. Is there [not] in [all] that an oath [sufficient] for one of perception?

Terjemahan Depag:

  1. Demi fajar,
  2. dan malam yang sepuluh,
  3. dan yang genap dan yang ganjil,
  4. dan malam bila berlalu.
  5. Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal.

Tafsir Ibnu Katsir

Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Al-Fajr merupakan suatu hal yang telah dimaklumi, yaitu subuh, menurut Ali, Ibnu Abbas, Ikrimah, Mujaliid, dan As-Saddi. Diriwayatkan pula dari Masruq dan Muhammad ibnu Ka'b, bahwa makna yang dimaksud dengan fajr ialah fajar Hari Raya Idul Ad-ha, yaitu sepuluh malam terakhir.

Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud ialah shalat yang dikerjakan di saat fajar (shalat fajar), sebagaimana yang dikatakan oleh Ikrimah. Dan menurut pendapat lain, makna yang dimaksud ialah seluruh siang hari; ini menurut suatu riwayat yang bersumber dari Ibnu Abbas.

Mengenai sepuluh malam, makna yang dimaksud ialah tanggal sepuluh bulan Zul Hijjah; sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abbas, Ibnuz Zubair, Mujahid, dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang dari kalangan ulama Salaf dan ulama Khalaf.

Di dalam kitab Sahih Bukhari telah disebutkan dari Ibnu Abbas secara marfu':

"مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ فِيهِنَّ مِنْ هَذِهِ الْأَيَّامِ" -يَعْنِي عَشَرَ ذِي الْحِجَّةِ -قَالُوا: وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ؟ قَالَ: "وَلَا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، إِلَّا رَجُلًا خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، ثُمَّ لَمْ يَرْجِعُ مِنْ ذَلِكَ بِشَيْءٍ"

Tiada suatu hari pun yang amal saleh lebih disukai oleh Allah padanya selain dari hari-hari ini. Yakni sepuluh hari pertama dari bulan Zul Hijjah. Mereka (para sahabat) bertanya, "Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah?" Rasulullah Saw. menjawab: Dan juga lebih utama daripada berjihad di jalan Allah, terkecuali seseorang yang keluar dengan membawa hartanya untuk berjihad di jalan Allah, kemudian tidak pulang selain dari namanya saja.

Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud adalah sepuluh hari pertama dari bulan Muharam, menurut apa yang diriwayatkan oleh Abu Ja'far Ibnu Jarir, tetapi tidak menisbatkannya kepada siapa pun sumber yang mengatakannya.

bu Kadinah telah meriwayatkan dari Qabus ibnu Abu Zabyan, dari ayahnya, dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan malam yang sepuluh. (Al-Fajr: 2) Bahwa yang dimaksud adalah sepuluh malam yang pertama dari bulan Ramadan; tetapi pendapat yang benar adalah yang pertama tadi.

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، حَدَّثَنَا عَيَّاش بْنُ عُقْبَةَ، حَدَّثَنِي خَير بْنُ نُعَيم، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ الْعَشْرَ عَشْرُ الْأَضْحَى، وَالْوَتْرُ يَوْمُ عَرَفَةَ، وَالشَّفْعُ يَوْمُ النَّحْرِ".

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnul Habbab, telah menceritakan kepada kami Iyasy ibnu Uqbah, telah menceritakan kepadaku Khair ibnu Na'im, dari Abuz Zubair. dari Jabir. dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Sesungguhnya malam yang sepuluh itu adalah malam yang sepuluh bulan Zul Hijjah, dan al-watr (ganjil) adalah hari 'Arafah, sedangkan asy-syaf'u (genap) adalah Hari Raya Kurban.

Imam Nasai meriwayatkannya dari Muhammad ibnu Raff dan Abdah ibnu Abdullah, masing-masing dari keduanya dari Zaid ibnul Habbab dengan sanad yang sama. Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkannya melalui Zaid ibnul Habbab dengan sanad yang sama. Semua perawi yang disebutkan dalam sanad ini tidak mempunyai cela; tetapi menurut hemat penulis, predikat marfu' dari matan hadis ini tidak dapat diterima begitu saja; Allah sajalah Yang Maha Mengetahui.

Firman Allah Swt.:

{وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ}

dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3)

Dalam hadis di atas telah disebutkan bahwa yang dimaksud dengan al-watr ialah hari 'Arafah karena jatuh pada tanggal sembilan Zul Hijjah, dan yang dimaksud dengan asy-syaf'u ialah Hari Raya Kurban karena ia jatuh pada tanggal sepuluh. Hal yang sama telah dikatakan pula oleh Ibnu Abbas, Ikrimah, dan Ad-Dahhak.

Pendapat kedua. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepadaku Uqbah ibnu Khalid, dari Wasil ibnus Sa’ib yang mengatakan bahwa ia telah bertanya kepada Ata tentang makna firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3) Apakah yang dimaksud adalah shalat witir yang biasa kita kerjakan? Ata menjawab, "Bukan, tetapi yang dimaksud dengan asy-syaf'u ialah hari ' Arafah, dan yang dimaksud dengan al-watru adalah Hari Raya Ad-ha."

Pendapat ketiga. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Amir ibnu Ibrahim Al-Asbahani, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari An-Nu'man ibnu Abdus Salam, dari Abu Sa'id ibnu Auf yang menceritakan kepadaku di Mekah, bahwa ia pernah mendengar Abdullah ibnuz Zubair berkhotbah, lalu berdirilah seorang lelaki mengatakan, "Wahai Amirul Mu’minin, terangkanlah kepadaku makna syaf'u dan watru”. Maka Abdullah ibnuz Zubair menjawab, bahwa yang dimaksud dengan asy-syaf'u ialah apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: Barang siapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. (Al-Baqarah: 203). Dan yang dimaksud dengan al-watru ialah apa yang disebutkan oleh Allah Swt. dalam firman-Nya: Dan barang siapa yang ingin menangguhkan (keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosapula baginya. (Al-Baqarah: 203).

Ibnu Juraij mengatakan, telah menceritakan kepadaku Muhammad ibnul Murtafi’, ia pernah mendengar Ibnuz Zubair mengatakan bahwa asy-syaf'u adalah pertengahan hari-hari tasyriq, sedangkan al-watru ialah akhir hari-hari tasyriq.

Di dalam kitab Sahihain disebutkan melalui riwayat Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw. yang telah bersabda:

«إِنْ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَهُوَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ»

Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, yakni seratus kurang satu; barang siapa yang menghafalnya, maka ia masuk surga; Dia adalah Esa dan menyukai yang esa.

Pendapat keempat. Al-Hasan Al-Basri dan Zaid ibnu Aslam mengatakan bahwa semua makhluk adalah genap dan ganjil; Allah Swt. bersumpah dengan menyebut makhluk-Nya. Pendapat ini merupakan suatu riwayat yang bersumber dari Mujahid. Tetapi pendapat terkenal yang bersumber dari Mujahid menyebutkan sebagaimana pendapat yang pertama.

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan makna firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3) Ibnu Abbas mengatakan bahwa Allah Esa, sedangkan kamu adalah genap. Dan dikatakan bahwa asy-syaf'u adalah shalat Isya (genap rakaatnya), sedangkan shalat yang witir (ganjil) adalah shalat Magrib.

Pendapat kelima. Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id Al-Asyaj, telah menceritakan kepada kami Ubaidillah ibnu Musa, dari Israil, dari Abu Yahya, dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3) Bahwa yang dimaksud dengan asy-syaf'u ialah sejodoh, dan yang dimaksud dengan al-watru adalah Allah Swt. Abu Abdullah telah meriwayatkan dari Mujahid, bahwa Allah adalah al-watru; sedangkan makhluk-Nya adalah asy-syaf'u alias genap, yakni laki-laki dan perempuan (jantan dan betina).

Ibnu Abu Najih telah meriwayatkan dari Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3) Segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah disebut asy-syaf'u (genap), langit dan bumi, daratan dan lautan, jin dan manusia, matahari dan rembulan, demikianlah seterusnya. Mujahid dalam hal ini mengikuti pendapat yang dikatakan oleh mereka sehubungan dengan makna firman-Nya:

وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah. (Adz-Dzariyat: 49).

Yakni agar kamu mengetahui bahwa yang menciptakan makhluk yang berpasang-pasangan adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Pendapat keenam. Qatadah telah meriwayatkan dari Al-Hasan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3) Bahwa bilangan itu ada yang genap dan ada yang ganjil.

Pendapat yang ketujuh sehubungan dengan makna ayat ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dan Ibnu Jarir melalui jalur Ibnu Juraij. Kemudian Ibnu Jarir mengatakan bahwa telah diriwayatkan dari Nabi Saw. suatu hadis yang menguatkan pendapat yang telah kami sebutkan dari Ibnuz Zubair.

Disebutkan bahwa telah menceritakan kepadaku Abdullah ibnu Abu Ziyad Al-Qatwani, telah menceritakan kepada kami Zaid Al-Habbab, telah menceritakan kepadaku Iyasy ibnu Uqbah, telah menceritakan kepadaku Khair ibnu Na' im, dari Abuz Zubair, dari Jabir, bahwa rasulullah Saw. telah bersabda:

«الشَّفْعُ الْيَوْمَانِ وَالْوَتَرُ الْيَوْمُ الثَّالِثُ»

Asy-syaf'u adalah dua hari dan al-watru adalah hari yang ketiganya.

Demikianlah hadis ini dikemukakan, yakni dengan lafaz tersebut. tetapi bertentangan dengan lafaz yang telah disebutkan sebelumnya dalam riwayat Imam Ahmad, Imam Nasai, dan Ibnu Abu Hatim, juga apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir sendiri; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Abul Aliyah dan Ar-Rabi' ibnu Anas serta selain keduanya mengatakan bahwa shalat itu ada yang rakaatnya genap —seperti empat rakaat dan dua rakaat— ada juga yang ganjil —seperti shalat Magrib yang jumlah rakaatnya ada tiga, yang boleh dibilang shalat witir di (penghujung) siang hari—. Demikian pula shalat witir yang dilakukan di akhir tahajud yang terbilang witir malam hari.

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma'mar, dari Qatadah. dan Imran ibnu Husain sehubungan dengan firman-Nya: dan yang genap dan yang ganjil. (Al-Fajr: 3)

Bahwa yang dimaksud adalah shalat-shalat fardu, yang antara lain ada yang genap bilangan rakaatnya dan ada pula yang ganjii. Tetapi asar ini munqathi lagi mauquf, lafaznya hanya khusus menyangkut shalat fardu. Sedangkan menurut yang diriwayatkan secara muttasil lagi marfu' sampai kepada Nabi Saw. menyebutkan dengan lafaz yang umum (yakni shalat fardu dan juga shalat sunat).

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ -هُوَ الطَّيَالِسِيُّ-حَدَّثَنَا هَمَّامٌ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عِمْرَانَ بْنِ عِصَامٍ: أَنَّ شَيْخًا حَدَّثَهُ مِنْ أَهْلِ الْبَصْرَةِ، عَنْ عِمْرَانِ بْنِ حُصَيْنٍ: أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِل عَنِ الشَّفْعِ وَالْوَتْرِ، فَقَالَ: "هِيَ الصَّلَاةُ، بَعْضُهَا شَفْعٌ، وَبَعْضُهَا وَتْرٌ"

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Abu Daud At-Tayalisi, telah menceritakan kepada kami Hammam. dari Qatadah, dari Imran ibnu Isam, bahwa seorang syekh dari ulama Basrah pernah menceritakan kepadanya sebuah hadis dari Imran ibnu Husain, bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang makna asy-syaf'u dan al-watru. Maka beliau Saw. menjawab: Maksudnya adalah shalat, sebagian darinya ada yang genap (rakaatnya) dan sebagian yang lain ada yang ganjil.

Demikianlah yang tertera di dalam kitab musnad.

Hal yang sama telah diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir, dari Bandar, dari Affan dan dari Abu Kuraib alias Ubaidillah ibnu Musa, keduanya dari Hammam ibnu Yahya, dari Qatadah, dari Imran ibnu Isam, dari seorang syekh, dari Imran ibnu Husain.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Isa alias Imam Turmuzi, dari Amr ibnu Ali, dari Ibnu Mahdi dan Abu Daud, keduanya dari Hanimam, dari Qatadah, dari Imran ibnu Isam, dari seorang ulama Basrah, dari Imran ibnu Husain dengan sanad yang sama. Kemudian Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini garib, kami tidak mengenalnya melainkan hanya melalui hadis Qatadah. Dan Khalid ibnu Qais telah meriwayatkannya pula dari Qatadah. Telah diriwayatkan pula dari Imran ibnu Isam, dari Imran ibnu Husain sendiri; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui.

Menurut hemat penulis, Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkannya pula, ia mengatakan bahwa telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Sinan Al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Hammam, dari Qatadah, dari Imran ibnu Isam Ad-Dab"i seorang syekh dari kalangan penduduk Basrah, dari Imran ibnu Husain, dari Nabi Saw., lalu disebutkan hal yang semisal. Demikianlah yang penulis lihat di dalam kitab tafsirnya, dia menjadikan syekh dari Basrah itu adalah Imran ibnu Isam sendiri.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, bahwa telah menceritakan kepada kami Nasr ibnu Ali, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Khalid ibnu Qais, dari Qatadah, dari Imran ibnu Isam, dari Imran ibnu Husain, dari Nabi Saw. sehubungan dengan makna asy-syaf'u dan al-watru. Beliau Saw. bersabda: Maksudnya ialah salat, di antaranya ada yang genap dan di antaranya ada yang ganjil (rakaatnya).

Dalam riwayat ini tidak disebutkan syekh yang tidak dikenal itu, dan hanya disebutkan Imran ibnu Isam Ad-Dab'i sendiri, dia adalah Abu linarah Al-Basri Imam masjid Bani Dabi'ah. Dia adalah orang tua dari Abu Jamrah Nasr ibnu Imran Ad-Dab'i. Qatadah dan putranya (yaituAbu Jamrah) dan Al-Musanna ibnu Sa'id serta Abut Tayyah alias Yazid ibnu Humaid telah mengambil riwayat darinya.

Ibnu Hibban menyebutkannya di dalam Kitabus Siqat sebagai salah seorang yang berpredikat siqah, dan Khalifah ibnu Khayyat menyebutkannya di kalangan para tabi'in dari kalangan penduduk Basrah. Dia adalah seorang yang terhormat, mulia, dan mempunyai kedudukan di sisi Al-Hajjaj ibnu Yusuf. Kemudian Al-Hajjaj membunuhnya di dalam Perang Ar-Rawiyah pada tahun 82 Hijriah, karena ia bergabung dengan Ibnul Asy'as. Pada Imam Turmuzi tiada lagi hadisnya selain dari hadis ini; tetapi menurut hemat penulis, predikat mauquf hadis ini hanya sampai kepada Imran ibnu Husain, lebih mendekati kepada kebenaran; hanya Allah-lah Yang Maha Mengetahui. Dan Ibnu Jarir tidak memutuskan dengan tegas mana yang dipilihnya di antara pendapat-pendapat tersebut di atas mengenai masalah genap dan ganjil ini.

Firman Allah Swt:

{وَاللَّيْلِ إِذَا يَسْرِ}

dan malam bila berlalu. (Al-Fajr: 4)

Al-Aufi telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa makna yang dimaksud ialah malam hari apabila telah berlalu. Dan Abdullah ibnuz Zubair telah mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan malam bila berlalu. (Al-Fajr: 4) Yakni bilamana berlalu sedikit demi sedikit, atau sebagian demi sebagian.

Mujahid, Abul Aliyah, dan Qatadah telah meriwayatkan dari Zaid ibnu Aslam dan Ibnu Zaid sehubungan dengan makna firman-Nya: dan malam bila berlalu. (Al-Fajr: 4) Yaitu apabila berjalan. Pendapat ini dapat ditakwilkan sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Ibnu Abbas, yakni telah berlalu. Dapat pula ditakwilkan bahwa makna yang dimaksud dengan berjalan ialah tiba. Juga dapat dikatakan bahwa takwil ini lebih sesuai, mengingat ia menjadi lawan kata dari firman-Nya: Demi fajar. (Al-Fajr: 1)

Karena sesungguhnya makna fajar itu ialah datangnya siang hari dan berlalunya malam hari. Maka apabila firman Allah Swt.: dan malam bila tiba. (Al-Fajr: 4) ditakwilkan dengan pengertian 'datangnya malam hari', berarti makna yang dimaksud ialah bahwa Allah Swt. telah bersumpah dengan menyebut datangnya siang hari dan berlalunya malam hari, juga dengan datangnya malam hari dan berlalunya siang hari. Semakna dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain melalui firman-Nya:

وَاللَّيْلِ إِذا عَسْعَسَ وَالصُّبْحِ إِذا تَنَفَّسَ

demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing. (At-Takwir: 17-18)

Hal yang sama telah dikatakan oleh Ad-Dahhak sehubungan dengan makna firman-Nya: dan demi malam bila berjalan. (Al-Fajr: 4) Yakni bila berlangsung. Lain pula dengan Ikrimah, ia mengatakan bahwa dan demi malam bila berlalu. (Al-Fajr: 4) Bahwa makna yang dimaksud ialah malam Juma', yaitu malam Muzdalifah; demikianlah menurut apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim.

Kemudian Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Isam, telah menceritakan kepada kami Abu Amir, dari Kasir ibnu Abdullah ibnu Amr yang mengatakan bahwa ia pernah mendengar Muhammad ibnu Ka'b Al-Qurazi mengatakan sehubungan dengan makna firman-Nya: dan malam bila berlalu. (Al-Fajr: 4) Dikatakan, "Teruskanlah perjalananmu, hai orang yang mengadakan perjalanan di malam hari, dan jangan sekali-kali kamu menginap kecuali di Jam'un."

*******************

Firman Allah Swt.:

{هَلْ فِي ذَلِكَ قَسَمٌ لِذِي حِجْرٍ}

Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal. (Al-Fajr: 5)

Maksudnya, bagi orang yang mempunyai akal dan pemikiran. Sesungguhnya akal dinamakan hijr (pencegah) karena ia mencegah pemiliknya dari melakukan perbuatan dan mengeluarkan ucapan yang tidak layak baginya. Dan termasuk ke dalam pengertian ini Hijir Baitullah (Hijir Ismail) karena mencegah orang yang melakukan tawaf dari menempel di temboknya yang termasuk rukun Syami.

Termasuk pula ke dalam pengertian ini Hijrul Yamamah (daerah Yamamah yang dilindungi), dan dikatakan, "Hakim telah menahan si Fulan," bila si hakim mencegahnya dari melakukan aktivitasnya.

وَيَقُولُونَ حِجْراً مَحْجُوراً

dan mereka berkata, "Hijran Mahjura," (semoga Allah menghindarkan bahaya ini dari saya). (Al-Furqan: 22).

Semuanya itu termasuk dalam satu bab dan mempunyai makna yang berdekatan.

Sumpah ini yang menyebutkan waktu-waktu ibadah dan juga ibadah itu sendiri—seperti haji, salat, dan lain sebagainya—termasuk berbagai jenis dari amal taqarrub yang dijadikan sarana oleh hamba-hamba-Nya yang bertakwa lagi takut kepada-Nya serta rendah diri kepada-Nya untuk lnendekatkan diri mereka kepada Zat-Nya Yang Mahamulia.

 

Kajian Numerologi Surat Al Fajr [89] ayat 3

Kajian numerologi Surat Al Fajr [89] ayat 3 dibantu dengan software QuranCode hasil karya Ali Adams. Software QuranCode memungkinkan kita untuk menelusuri jumlah huruf di setiap surat dan ayat dalam Alquran. Softwarenya dapat diunduh di link berikut: https://archive.codeplex.com/?p=qurancode.

Kata Allah (اَللهُ) dalam Alquran

Allah (اَللهُ) tersusun dari huruf ا (’alif), ل (lām) dan هـ (hā’). Surat pertama alquran, al-Fatihah (الفاتحة), memiliki 7 ayat, 29 kata dan 139 huruf. Dari 139 huruf yang tersusun dalam Surat al-Fatihah, huruf ا (’alif) termuat sebanyak 22 kali, huruf ل (lām) termuat sebanyak 22 kali dan huruf هـ (hā’) termuat sebanyak 5 kali. Ini berarti dalam Surat al-Fatihah (الفاتحة), jumlah huruf ا (’alif) merupakan bilangan genap,  jumlah huruf ل (lām) merupakan bilangan genap dan jumlah huruf هـ (hā’) merupakan bilangan ganjil. Terbentuk formasi: Genap-Genap-Ganjil.

Mari kita perhatikan jumlah huruf-huruf tersebut dan penyusunan kategori genap dan ganjilnya pada seluruh surat dalam alquran seperti yang terlihat dalam tabel berikut.

Terlihat bahwa huruf ا (’alif) berjumlah ganjil ada dalam 55 surat. Dan yang berjumlah genap ada dalam 59 surat. Huruf ل (lām) berjumlah ganjil ada dalam 54 surat. Dan yang berjumlah genap ada dalam 60 surat. Sementara itu huruf هـ (hā’) berjumlah ganjil ada dalam 62 surat. Dan yang berjumlah genap ada dalam 52 surat. Jika kita susun dalam tabel, maka akan tergambarkan sebagai berikut:

Menariknya, jika kita jumlahkan jumlah surat huruf penyusun kata Allah (اَللهُ) yang ganjil dan genap tersebut menghasilkan jumlah yang sama. Bilangan unik, yakni 171. Ganjil 55 + 54 + 62 = 171, dan Genap 59 + 60 + 62 = 171. Dan bilang 171 adalah bilangan ganjil!

Ini bukan kebetulan belaka. Karena jika salah satu huruf saja dalam satu ayat atau surat berbeda, maka otomatis jumlah genap dan ganjil dalam suatu ayat, suatu surat dan seluruh surat akan berbeda pula.

Ada apa dengan bilangan 171? Jika kita ekstrak bilangan tersebut maka akan menghasilkan angka 9 (1 + 7 + 1). Angka 9 adalah angka sempurna.

Selanjutnya mari kita temukan formasi ayat yang terkait dengan bilangan 171. Ada dua kemungkinan yakni:

  • Surat 1 ayat 71: tidak ada dalam alquran.
  • Surat 17 ayat 1: ada dalam alquran. Yakni surat Al-Isra’ (17) ayat 1.

 

سُبۡحَٰنَ ٱلَّذِيٓ أَسۡرَىٰ بِعَبۡدِهِۦ لَيۡلٗا مِّنَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ إِلَى ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡأَقۡصَا ٱلَّذِي بَٰرَكۡنَا حَوۡلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنۡ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡبَصِيرُ 

 

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS Al-Isra’ [17]: 1).

Ayat tersebut menerangkan peristiwa kenaikan Isra’ Mi’raj. Perjalanan Rasulullah Muhammad Saw menghadap-Nya. Interaksi Rasul kepada Tuhannya.

 

Kata Muhammad (مُحَمَّدٌ)dalam Alquran

Muhammad (مُحَمَّدٌ) tersusun dari huruf م (mīm), ح (ḥā’) dan دـ (dāl). Surat pertama alquran, al-Fatihah (الفاتحة), memiliki 7 ayat, 29 kata dan 139 huruf. Dari 139 huruf yang tersusun dalam Surat al-Fatihah, huruf م (mīm) termuat sebanyak 15 kali, huruf ح (ḥā’) termuat sebanyak 5 kali dan huruf دـ (dāl) termuat sebanyak 4 kali. Ini berarti dalam Surat al-Fatihah (الفاتحة), jumlah huruf م (mīm) merupakan bilangan ganjil,  jumlah huruf ح (ḥā’) merupakan bilangan ganjil dan jumlah huruf دـ (dāl) merupakan bilangan genap. Terbentuk formasi: Ganjil-Ganjil-Genap.

Sekarang mari kita perhatikan jumlah huruf-huruf tersebut dan penyusunan kategori genap dan ganjilnya pada seluruh surat dalam alquran seperti yang terlihat dalam tabel berikut.

Terlihat bahwa huruf م (mīm) berjumlah ganjil ada dalam 45 surat. Dan yang berjumlah genap ada dalam 69 surat. Huruf ح (ḥā’) berjumlah ganjil ada dalam 58 surat. Dan yang berjumlah genap ada dalam 56 surat. Sementara itu huruf دـ (dāl) berjumlah ganjil ada dalam 59 surat. Dan yang berjumlah genap ada dalam 55 surat. Jika kita susun dalam tabel, maka akan tergambarkan sebagai berikut:

Berbeda dengan kata Allah (اَللهُ) yang jika dijumlahkan memiliki satu bilangan unik 171, maka jika kita jumlahkan jumlah surat huruf penyusun kata Muhammad (مُحَمَّدٌ) yang ganjil dan genap tersebut akan menghasilkan dua bilangan sebagai berikut: Ganjil 45 + 58 + 59 = 162, dan Genap 69 + 56 + 55 = 180. Ingat, bilangan 162 dan 180 adalah bilangan genap!

Menariknya lagi, jika kita ekstrak kedua bilang tersebut (162 dan 180), keduanya akan menghasilkan jumlah yang sama yakni angka 9 (1 + 6 + 2 dan 1 + 8 + 0). Persis sama dengan ekstrak bilangan 171 pada kata Allah (اَللهُ) menghasilkan angka 9. Apakah ini hanya kebetulan?

Selanjutnya mari kita temukan formasi ayat yang terkait dengan bilangan 162 dan 180. Ada empat kemungkinan yakni:

  • Surat 1 ayat 62: tidak ada dalam alquran.
  • Surat 16 ayat 2: ada dalam alquran. Yakni surat An-Nahl (16) ayat 2.
  • Surat 1 ayat 80: tidak ada dalam alquran.
  • Surat 18 ayat 0: tidak ada dalam alquran.

Mari kita simak isi surat An-Nahl (16) ayat 2:

يُنَزِّلُ ٱلۡمَلَٰٓئِكَةَ بِٱلرُّوحِ مِنۡ أَمۡرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦٓ أَنۡ أَنذِرُوٓاْ أَنَّهُۥ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱتَّقُونِ 

Dia menurunkan para malaikat dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya, yaitu: "Peringatkanlah olehmu sekalian, bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertakwa kepada-Ku". (QS An-Nahl [16]: 2).

Ayat tersebut menerangkan peristiwa perintah turunnya wahyu. Perjalanan para malaikat menyampaikan wahyu kepada Rasulullah. Interaksi Tuhan kepada Rasul-Nya.

Tabel berikut adalah ringkasan jumlah huruf ganjil dan genap kata Allah dan Muhammad dalam Alquran.

Fakta ini relevan dengan penjelasan Al-Hasan Al-Basri dan Zaid ibnu Aslam yang mengatakan bahwa semua makhluk adalah genap, dan ganjil adalah Allah Swt. “dan yang genap (Muhammad) dan yang ganjil (Allah)”. Kata وَٱلشَّفۡعِ juga memiliki tautan dengan kata syafa’at. Muhammad Saw. adalah Rasulullah yang mampu memberikan syafa’at kelak di hari pengadilan akhir.

Keunikan Nomor Surat dan Ayat

Al Fajr (الفجر) adalah surat ke-89 dan ayat “dan yang genap dan yang ganjil” (وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ) adalah ayat ke-3 dari surat Al Fajr. Apa yang menarik dari posisi ayat ini? Mari kita perhatikan ulasan berikut.

Bilangan 89 (delapan puluh sembilan) merupakan bilangan yang tersusun dari angka 8 (delapan) dan angka 9 (sembilan). Angka 8 adalah angka genap, sementara angka 9 adalah angka ganjil. Tapi bukankah ada beberapa bilangan yang tersusun dari angka genap dan ganjil? Sebut saja misalnya 21, 23, 25, 27, 29, 41, 43, 45, 47, 49, 61, 63, 65, 67, 69, 81, 83, 85, 87 dan 89. Terdapat 20 bilangan yang tersusun dari kombinasi angka genap dan ganjil. Bilangan 89 adalah posisi bilangan terakhir dari kombinasi itu. Lalu apa uniknya dari bilangan 89? Dan mengapa pula ayat “dan yang genap dan yang ganjil” (وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ) ditempatkan pada ayat ke-3? Ini yang menarik.

Perhatikan, bilangan 89 tersusun dari angka 8 dan angka 9. Angka 8 adalah hasil dari 2 pangkat 3 (23 atau 2 x 2 x 2). Sementara angka 9 merupakan hasil dari 3 pangkat 2 (32 atau 3 x 3). Kombinasi perpangkatan yang sangat unik dari angka 2 (genap) dan angka 3 (ganjil) yang merupakan posisi ayat. Kombinasi ini tidak ditemui pada sisa 19 bilangan yang lain (21, 23, 25, 27, 29, 41, 43, 45, 47, 49, 61, 63, 65, 67, 69, 81, 83, 85, dan 87). Apakah ini sebuah kebetulan juga?

Posisi surat juga menjelaskan tentang genap dan ganjil. Kita tahu Alquran terbagi dalam 114 surat dan 6236 ayat. Surat al-Fajr adalah surat ke-89. Jumlah surat sebelum al-Fajr adalah 88 surat (genap). Dan jumlah surat setelah al-Fajr adalah 25 surat (ganjil). Sebaliknya, jumlah ayat sebelum ayat ke-3 surat  ke-89 adalah 5995 ayat (ganjil). Dan jumlah ayat sesudah ayat ke-3 surat  ke-89 adalah 240 (genap). Bayangkan jika posisi surat dan ayat “dan yang genap dan yang ganjil” ini tidak pada surat ke-89 dan ayat ke-3, maka formasi genap-ganjil ini bisa berubah pula.

Keunikan lain, jika dalam Alquran kita kenal ada keajaiban angka-19 dimana banyak isi Alquran yang menunjukkan kelipatan 19, maka surat 89 dan ayat 3 jika digabungkan menjadi bilangan 893 merupakan bilangan kelipatan 19 juga (893/19 = 47). Tidak mudah mendapatkan formasi surat-ayat yang bila digabungkan bilangannya akan habis dibagi 19. Ini benar-benar salah satu mukjizat dari Alquran.

Keunikan Penyebutan dan Relasi Kata

Keunikan lain didapatkan pada penyebutan dan relasi kata. Kata saf’i (شَّفۡع) dan relasinya disebutkan sebanyak 26 ayat dalam alquran. Dan 26 adalah bilangan genap. Ayat tersebut adalah 002:048, 002:123, 002:254, 002:255, 004:085, 006:051, 006:070, 006:094, 007:053, 010:003, 010:018, 019:087, 020:109, 021:028, 026:100, 030:013, 032:004, 034:023, 036:023, 039:043, 039:044, 040:018, 043:086, 053:026, 074:048, dan 089:003.

Sementara itu kata watri (وَتۡرِ) dan relasinya disebutkan sebanyak 3 ayat dalam alquran. Dan 3 merupakan bilangan ganjil. Ayat tersebut adalah 023:044, 047:035, dan 089:003.

Apakah ini sebuah kebetulan juga? Tentu mustahil.

Bayangkan, jika satu kata dalam ayat atau satu huruf saja dalam Alquran yang berubah, maka semua formasi ganjil dan genap dalam analisis di atas akan berubah pula.

Keajaiban ganjil dan genap dalam Surat Al-Fajar [89] ayat 3: “dan yang genap dan yang ganjil” (وَٱلشَّفۡعِ وَٱلۡوَتۡرِ) ini semoga menjadi pengingat kita bahwa alquran adalah mukjizat yang luar biasa. Tiada duanya. Keajaiban ini hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang mau menggunakan akalnya, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah swt. Dalam ayat berikutnya: Pada yang demikian itu terdapat sumpah (yang dapat diterima) oleh orang-orang yang berakal. (Al-Fajr: 5)

Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari kajian ini dan terus belajar memahami dan menerapkan alquran dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga dapat kembali kepada jannah-Nya dengan tenang dalam ridho-Nya bersama orang-orang yang saleh.

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam jannah-Ku.” (QS al-Fajr [89]: 27-30)

Wallahu a'lam

Tinggal di Indonesia