Aether dan Bukti Bumi Pusat Alam Semesta

Terkirim 2 bulan yang lalu di Pendidikan.

Pada tahun 1913, George Sagnac, seorang ahli fisika dari Perancis, melakukan percobaan untuk membuktikan keberadaaan Aether.

Aether dan Bukti Bumi Pusat Alam Semesta

Apa itu aether? kurang lebih artinya media penghantar cahaya. Analogiya, gelombang bunyi butuh media untuk merambat, misal udara. Nah, begitu pun cahaya, tidak begitu saja sampai dari sumber cahaya ke tempat tujuan, tentunya melalui suatu media.

Lalu, bagaimana cara Sagnac merancang alatya untuk membuktikan ada tidaknya aether ini

Caranya, mirip dengan eksperiman Michelson-Morlay, yakni seberkas cahaya ditembakkan dan dipisah dengan arah berlawanan, kemudian digabungkan kembali dan ditangkap pada detektor gelombang. Bedanya, percobaan ini dilakukan dalam sebuah ring interferometer yang dapat diputar.

Pada waktu cahaya kembali ke titik awal, kedua berkas cahaya itu keluar dari cincin dan mengalami interferensi gelombang cahaya, dan menghasilan interference firnges. Ketika meja diputar 2 putaran per detik, Sagnac menemukan bahwa fringes berubah.

Oke, kita catat dulu hasil ini: fringes berubah dengan memutar ring.

Pada percobaan sebelumnya, Michelson Morlay gagal mendeteksi gerakan bumi 30km/s terhadap aether. Dan kita sudah tahu apa komentar para saintis terhadap kenyataan ini:

1. Bumi diam, atau

2. Aether tidak ada.

Nah, pada percobaan Sagnac ini, kecepatan cahaya ternyata terpengaruh dengan gerakan ring, seakan-akan ada cahaya yang terkena “angin aether”. Ini membuktikan bahwa aether itu ada.

Fakta ini sekaligus mematahkan teori relativitas. Kok bisa? Hal itu dapat dijelaskan sebagai berikut.

Menurut teori relativitas, aether itu tidak ada, jadi cahaya merambat dari sumber dengan kecepatan relativ yang sama, dan tidak terpengaruh apakah sumbernya bergerak atau tidak. Sedangkan pada teori klasik, cahaya merambat melalui aether dan kecepatannya dipengaruhi oleh aether.

Percobaan Sagnac ini justru sesuai dengan teori klasik, bahwa aether itu ada.

Kembali ke polemik Michelson-Morlay. Jika aether ada, maka hanya ada satu kesimpulan: BUMI INI DIAM.

Berikut ini ada sebuah video yang bagus menjelaskan sagnac experiment.

Sains modern mengadopsi teori Heliosentris untuk memodelkan bumi dan benda-benda kosmis.
Pada model ini, bumi digambarkan sebagai bola berotasi sekali dalam 24 jam dengan kecepatan 1.670 km/jam, mengelilingi matahari dengan kecepatan 108.000 km/jam, dan di kemudian hari dikatakan mengelilingi pusat galaksi dengan kecepatan 782.000 km/jam.
Wow.. sungguh kecepatan yang luar biasa, bisakah Anda membayangkan?
Kenapa kita tidak merasakan perputaran bumi sama sekali? Pasti kita akan menjawab karena kecepatannya konstan. Betul, kita tidak bisa merasakan kecepatan konstan. Kita sering mengalami di dalam kereta atau pesawat yang sangat cepat. Baru terasa apabila terjadi pengereman atau penambahan kecepatan.
Namun tahukah Anda, apabila betul bumi mengelilingi matahari, tentulah lintasannya berbentuk elips sebagaimana pengamatan para astronom terhadap pergerakan benda-benda langit dari bumi.
Hal ini sesuai dengan hukum kepler bahwa kecepatan bumi tidak konstan, ada saatnya semakin cepat pada posisi aphelium dan lebih lambat pada posisi perihelium.

Pada tahun 1887,Albert Michelson dan Edward Morley melakukan percobaan untuk mengukur kecepatan planet Bumi terhadap ether, yang pada waktu itu dianggap sebagai medium perambatan gelombang cahaya.
Analoginya, anggaplah arah revolusi bumi adalah arus sungai, dan cahaya matahari adalah orang yang berenang dalam media air menuju bumi. Maka yang diharapkan adalah adanya penyimpangan. Inilah yang akan dihitung sebagai hasil.
Caranya, dengan melewatkan sumber cahaya pada cermin setengah perak, sehingga cahaya menjadi terpisah. Kemudian cahaya tersebut digabungkan kembali menuju detektor gelombang.
Analisis terhadap hasil percobaan menunjukkan kegagalan pengamatan pergerakan bumi terhadap ether. Hasilnya “nol” (null results) dengan sangat jelas.

“This conclusion directly contradicts the explanation of the phenomenon of aberration which has been hitherto generally accepted, and which presupposes that the earth moves throughthe.ether, the latter remaining at rest”
– Albert Michelson (Albert A. Michelson, “The Relative Motion of the Earth and the Luminiferous Ether,” American Journal of Science, Vol. 22, August 1881, p. 128)
Jika diterjemahkan kurang lebih begini:
Kesimpulan ini bertentangan secara langsung dengan penjelasan dari fenomena penyimpangan yang sampai sekarang diterima secara umum, yang menganggap bahwa bumi bergerak melalui ether, ternyata tetap diam.
Waktu itu problem sains sangat serius. Apakah akan mengakui bumi ini diam, ataukah hendak menghapus adanya aether. Namun yang kita ketahui sampai saat ini, semua hal terkait geocentricity akan ditentang oleh sains modern, dengan berbagai teori dan alasan. Tentu saja, tanpa bukti ilmiah.
Percobaan Michelson ini tidak hanya dilakukan sekali, namun berkali-kali, sampai tahun 1905, bahkan dengan alat detektor yang lebih canggih. Hasilnya tetap sama. Pada artikel selanjutnya kita akan semakin yakin bahwa telah terjadi distorsi sains. Sagnac Experiment telah membuktikan bahwa aether itu ada, dan artinya bahwa BUMI DIAM (stationer).
Nah, sekarang tinggal kita, lebih percaya percobaan ilmiah ataukah teori tanpa bukti? Mau terima kenyataan atau tidak?

51 Lihat

Tinggal di Indonesia