Paradoks Kosmologi Sains Modern

Terkirim 2 bulan yang lalu di Sains dan Teknologi.

Aether dan Teori Sains Modern ” Beberapa orang tidak pernah mengakui bahwa mereka keliru dan meneruskan mencari argumen-argumen baru, dan sering saling tidak konsisten, untuk mendukung pendapatnya yang salah. ” ( Stephen Hawking, 1988 ).

Paradoks Kosmologi Sains Modern

Rangkaian percobaan yang dilakukan oleh Michelson sejak tahun 1887, dan beberapa ahli lainnya, tidak berhasil membuktikan adanya Aether. Beberapa ahli sebelumnya mendefinisikan Aether sebagai medium yang merambatkan radiasi / cahaya. Dan Michelson mencoba membuktikan adanya medium tersebut dengan ” melempar balok ” yang berupa cahaya. Rasanya seperti percobaan yang tidak masuk akal.– Maksudnya, bahwa percobaan tersebut bertujuan untuk membuktikan adanya ‘ angin Aether ‘ akibat dari rotasi bumi, dan dugaannya / hipotesa bahwa angin aether tersebut bisa memperlambat kecepatan ‘ balok ‘ yang dilemparkan, adalah dugaan / hipotesa yang bertentangan dengan pendapat bahwa aether adalah suatu media yang merambatkan cahaya.
Mungkin bisa dianalogikan seseorang yang belum tahu cermin, lalu melihat bayangan di cermin tersebut. Orang tersebut mencoba meraba dan menangkap bayangan di cermin, tapi setelah berkali-kali mencoba dan tidak berhasil menangkap bayangan, masih saja tidak menyadari bahwa ada suatu media bernama cermin yang bisa menampilkan bermacam-macam bayangan.
Selama ini sebagian besar ilmuwan melihat hasil percobaan Michelson-Morley sebagai bukti ilmiah yang menyangkal adanya aether. Namun kita bisa melihat dari sisi lain, bahwa hasil percobaan itu makin memperkuat dugaan ilmuwan sebelumnya, bahwa aether adalah suatu media yang tidak bisa dideteksi keberadaannya oleh indera manusia. Dengan kata lain, hasil percobaan Michelson-Morley telah membuktikan kebenaran dugaan para ilmuwan terdahulu. Singkatnya, Michelson-Morley harus kita ingat atas segala jerih payah dan jasa-jasanya membuktikan adanya luminiferous aether, yang tidak bisa terdeteksi oleh peralatan buatannya, dan itu bukan karena peralatan deteksinya tidak akurat, melainkan kesalahan prinsip menganggap gerakan rotasi bumi bisa menimbulkan ‘ angin aether ‘.
Aether, atau unsur ke-lima, berbeda dengan apa yang dikatakan sebagai empat unsur asal lainnya : Tanah, Air, Udara, dan Api. Aether tidak terpengaruh oleh gerak atau perubahan empat unsur itu, tapi justru sebaliknya : Aether mempengaruhi gerak dan perubahan unsur asal yang empat itu, dan pengaruhnya yang utama adalah untukKESEIMBANGAN.
Kita bisa memahami, bahwa eksperimen-eksperimen yang dilakukan oleh Michelson dan beberapa ilmuwan lainnya, merupakan produk dariEuforia Rasionalisme Murni, bahwa kebenaran haruslah ditentukan melalui pembuktian, logika, dan analisis yang berdasarkan fakta, daripada melalui iman, dogma, atau ajaran agama. Kita kenal tokoh-tokoh pembangun rasionalisme murni / ilmiah modern mulai dari Leonardo da Vinci (1452-1519), Nicolaus Copernicus (1473-1543), Johannes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1643), Francis Bacon (1561-1623), dan kemudian Rene Descartes ( 1596-1650 ) yang dipandang sebagai Bapak Filsafat Modern. Terjadinya euforia rasionalisme murni melahirkaneuforia eksperimen, sehingga para ilmuwan menjadi berlebih-lebihan dalam menilai suatu kebenaran. Eksperimen Michelson-Morley adalah salah satu contoh, contoh lain yang terkenal adalah hasil eksperimen Louis Pasteur dengan tabung leher angsa pada tahun 1861 – yang diakui sendiri oleh Louis Pasteur sebagai eksperimen sederhana – namun diakui oleh akademi sains sebagai suatu eksperimen yang berhasil ” menggugurkan Teori Generatio Spontanea Aristoteles “. Jelas hal tersebut adalah suatu kesalahpahaman yang fatal.
Bukti-bukti lainnya tentang adanya Luminiferous Aether, atau sering disebut Aether saja, banyak sekali tak terhitung jumlahnya. Tapi bukti-bukti tersebut merupakan bukti tidak langsung, sama seperti kita percaya tentang adanya atom, padahal tidak ada seorangpun manusia yang pernah melihat sebuah atom.

Pengenalan dan pengetahuan kita tentang atom, inti atom, proton dan elektron, dan partikel elementer lainnya adalah melalui bukti-bukti tidak langsung, bukan karena kita melihat sendiri sebutir atom dan partikel di dalamnya. Bagaimana mungkin melihat sebutir atom, proton, netron, elektron dan partikel elementer lainnya, bila apa yang disebut dengan nama atom, proton, netron, elekron dan partikel elementer lainnya tersebut sebenarnya bukan partikel, tapi adalah suatu gelombang ? ( Istilah Indonesia : suatu getaran ). Namun dengan mengenal sifat-sifat ‘ partikel ‘ tersebut kita dapat menggambarkannya dalam suatu gambar model, termasuk gambar lintasan / orbit elektron. Sekali lagi, apa yang kita pahami dari gambar model atom tersebut adalah suatu fakta hasil dari bukti tidak langsung berupa pengenalan kita terhadap sifat-sifat ‘ partikel ‘. Hal yang sama dapat diterapkan untuk membuat gambar model dari aether, bila kita dapat mengidentifikasi sifat-sifat atau karakteristiknya. Hal tersebut mungkin dapat merubah pandangan kita terhadap model standar fisika dengan empat forsanya : gravitas, elekromagnetik, nuklir kuat dan nuklir lemah, yang mengabaikan adanya aether. Dan oleh karenanya telah menempatkan ‘ penyebab gravitasi ‘ sebagai salah satu misteri terbesar yang tidak terpecahkan.
Bukti-bukti keberadaan aether, antara lain : adanya gaya tarik yang bisa kita amati secara langsung berupa terjadinya pasang-surut laut disebabkan adanya suatu gaya tarik berupa ‘ aksi dari kejauhan ‘ dari bulan.
Gaya tarik berupa aksi dari kejauhan tersebut memberi konfirmasi adanya sesuatu yang memiliki kecepatan lebih cepat dari kecepatan cahaya (bukan gravitasi), sehingga merupakan sandungan bagi hipotesa Einstein dalam teori relativitas khususnya bahwa tidak ada sesuatu yang melebihi kecepatan cahaya.

Kekeliruan teori relativitas khusus terkait dengan hipotesa kecepatan cahaya, baru disadari oleh Einstein setelah dia mengumumkan teori relativitas khususnya pada tahun 1905, sebagaimana dijelaskan oleh Stephen Hawking dalam bukunya A Brief History Of Time : “Teori khusus relativitas sangat berhasil dalam menjelaskan bahwa kecepatan cahaya tampak sama bagi semua pengamat ( seperti ditunjukkan oleh eksperimen Michelson – Morley ) dan dapat memerikan apa yang terjadi bila benda bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Tetapi teori khusus ini tidak konsisten dengan teori gravitas Newton, yang mengatakan bahwa benda-benda saling bertarikan dengan forsa yang tergantung pada jarak antara benda-benda itu. Ini berarti bila orang menggerakkan salah satu benda itu, forsa pada benda yang lain akan berubah dalam sekejab. Atau, dengan kata lain, efek gravitasi haruslah merambat dengan kecepatan tidak terhingga, bukannya dengan kecepatan cahaya atau lebih rendah, seperti disyaratkan oleh teori khusus relativitas. Einstein berkali-kali mencoba mencari teori gravitas yang konsisten dengan relativitas khusus itu. Upaya selama 1908 – 1914 itu tidak berhasil. Akhirnya pada tahun 1915 ia mengemukakan apa yang sekarang kita sebut teori umum relativitas.”
Berdasarkan penjelasan Stephen Hawking di atas, maka penemuan adanya partikel yang bergerak lebih cepat dari cahaya – neutrino – yang sempat menjadi berita besar pada media Sebtember 2011, bahwa penemuan itu telah membuktikan kekeliruan teori relativitas khusus, sesungguhnya bukan sesuatu hal yang mengejutkan.

Einstein sendiri sejak awalnya, pada tahun 1908, telah menyadari kekeliruannya. Oleh karenanya terlihat aneh ketika soal neutrino itupun menjadi kontroversi, bahwa temuan adanya partikel yang bergerak lebih cepat dari cahaya itu dikatakan karena ada kesalahan disebabkan koneksi yang buruk antara unit GPS dan komputer. Kelihatan masih ada upaya mempertahankan hipotesa bahwa kecepatan cahaya ( 300.000 km /dt ) adalah kecepatan tertinggi di alam semesta.
Mungkin masih banyak yang belum mengetahui sebab-sebab atau pendorong lahirnya teori relativitas umum, seperti yang dijelaskan oleh Stephen Hawking.
Jika dalam relativitas khusus mengabaikan adanya Aether, tapi dalam relativitas umum Einstein tidak bisa mengabaikannya. Dengan demikian, melihat dari sisi kelahiran teori relativitas khusus dan teori relativitas umum, mau tidak mau kita harus percaya bahwa konsep adanya aether tidak bisa diabaikan begitu saja.
Antara lain, teori relativitas umum memprediksi adanya lengkungan ruang-waktu, dan hipotesa lengkungan ruang-waktu memperyaratkan adanya materi dan juga energi yang mengisi alam semesta, yang kemudian dalam kosmologi modern dikenal dengan hipotesa tentang materi gelap ( Dark Matter ) dan energi gelap ( Dark Energy ). Selain itu, penemuan radiasi latar-belakang ( Cosmic Microwave Background Radiation / CMB ) yang terkait dengan hipotesa Big-Bang, makin memperkuat dugaan adanya materi dan juga energi yang berperan dalam pergerakkan planet-planet dan semua benda angkasa lainnya.
Mungkin kita bisa mengabaikan hipotesa Big-Bang, dan kemudian melihat adanya bermilyar galaksi-galaksi di alam semesta, maka tidak diragukan lagi adanya radiasi kosmik ( Cosmic Radiation ) yang terjadi setiap saat dan berlangsung terus menerus sepanjang waktu.

Radiasi kosmik menyiratkan adanya materi dan energi yang mengisi alam semesta. Dan radiasi kosmik tersebut dapat dipandang sebagai penampakan dari suatu medium yang mengisi alam semesta, yaitu : aether.

Fakta, atau bukti ilmiah yang bisa dilihat langsung oleh manusia – baik oleh awam maupun para ilmuwan – adalah adanya fenomena hujan meteoroid yang hampir terjadi setiap tahun, dan fenomena itu diketahui sudah terjadi sejak zaman sebelum masehi. Disamping itu banyak sekali meteoroid itu yang ditemukan jatuh di bumi, misalnya meteorit Orgueil yang jatuh di Perancis pada tahun 1864, dan masih menjadi salah satu bahan penelitian sampai sekarang ini. Meteorit-meteorit yang berupa material condrite karbon tersebut adalah suatu jenis material yang berbeda dengan material bebatuan bumi, walaupun ada beberapa unsur yang sama. Beberapa kesamaan unsur yang terkandung dalam meteorit-meteorit tersebut selalu diasosiasikan oleh para peneliti sebagai unsur-unsur yang ada di bumi waktu kondisi bumi masih ” muda “. Hal yang tidak bisa dibantah adalah bahwa meteorit-meteorit tersebut berasal dari luar angkasa, berasal dari planet-planet atau benda angkasa lainnya yang ” bahan dasarnya ” berasal dari luminiferous aether, oleh karenanya struktur materialnya berbeda dengan material yang ada di bumi.

Rene Descartes

Image : Rene Descartes

Kembali ke soal terjadinya euforia eksperimen, kita ingin mengetahui bagaimana pendapat Bapak Filsafat Modern – Rene Descartes – terhadap adanya aether yang sudah sejak lama dikemukakan oleh beberapa filsuf, termasuk dikemukakan oleh Aristoteles. Konsep Aristoteles tentang Aether, disebutnya itu sebagai unsur asal yang ke-lima. Empat unsur asal lainnya adalah : Tanah, Air, Udara, Api. Sebelumnya kita perlu memahami, bahwa apa yang dikemukakan oleh Aristoteles dalam ajarannya adalah suatu Konsep, bukan Teori.
Dan ternyata, pandangan Rene Descartes tentang aether tidak jauh berbeda dengan pandangan Aristoteles.
Ide Descartes tentang aether dipandang oleh sebagian ilmuwan sebagai mewakili ide bahwa alam semesta diatur oleh hukum-hukum serba mekanis – tidak ada campur tangan Tuhan – dan mungkin terkait dengan ungkapannya yang terkenal : Cogito Ergo Sum, yang menekankan penggunakan akal pikiran. Hal tersebut mengesankan bahwa Rene Descartes bukanlah sosok yang yakin adanya Tuhan, hal yang sama juga terjadi terhadap Aristoteles dengan ‘ teori ‘ generatio spontaneanya dipandang mengabaikan adanya Tuhan. Padahal kita tahu dari sejarah kefilsufan Descartes, bahwa panggilan kefilsufannya terjadi setelah Rene Descartes mengalami penglihatan mistis dua kali, dan hal tersebut yang mendorong Descartes keluar dari dinas ketentaraan Jerman, kemudian hijrah ke negeri Belanda dan menulis serta menyampaikan ide-idenya yang revolusioner, mendobrak pemikiran-pemikiran kolot yang terjadi pada zamannya. Singkatnya, Descartes termasuk ilmuwan dan juga filsuf yang memiliki pengetahuan mendalam tentang Ketuhanan. Sama seperti para ilmuwan pelopor sains modern yang disebut di atas : Leonardo da Vinci, Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler, Galileo dan Francis Bacon, semuanya dikenal sebagai sosok yang percaya adanya Tuhan.
Demikian juga para ilmuwan banyak yang keliru menilai pandangan Aristoteles tentang fisika. Aristoteles menyebut empat unsur asal yaitu Tanah, Air, Udara, dan Api. Keempat unsur asal itu dikatakan sebagai pembentuk materi di bumi, termasuk benda hidup / makhluk hidup. Selain empat unsur asal ada unsur ke-lima, yaitu aether, dan aether tersebut mengisi setiap ruang di alam semesta termasuk berada / meliputi dalam keempat unsur asal Tanah, Air, Udara, dan Api. Menurut Aristoteles, aether merupakan unsur asal pembentuk benda-benda angkasa. Gagasan atau konsep Aristoteles tersebut sering dianggap sebagai mitos, bahkan ada yang menganggap sebagai gagasan kuno yang bodoh. Benarkah gagasan itu hanya mitos atau gagasan bodoh ? Jawabannya : Tidak. Itu bukan mitos dan bukan suatu gagasan bodoh, melainkan adalah suatu pandangan filosofis yang jernih terkait dengan materi dan lingkungan alam semesta.
Konsep Aristoteles bukan sekedar mitos, dan sebagai buktinya, kita cermati salah satu yang dikatakan oleh Aristoteles sebagai unsur asal, yaitu air.

Secara teori molekul air hanya terdiri dari dua atom H dan satu atom O, maka teori itu seharusnya dapat dipraktekkan untuk membuat pabrik air murni dengan menyediakan sebanyak-banyaknya unsur Hidrogen dan unsur Oksigen. Namun ilmuwan tidak mungkin melakukan hal itu. Hidrogen adalah suatu gas yang mudah terbakar, dan Oksigen adalah gas pembakar. Jika kita berusaha mencampurkan kedua unsur itu adalah sangat berbahaya sekali karena bisa menimbulkan ledakan dan kebakaran hebat.
Dan sebetulnya ilmuwan bisa membuat bom dari air, dimana dengan jumlah perbandingan massa yang sama dengan bahan peledak TNT, bom dari bahan air tersebut kekuatan ledakannya melebihi kekuatan bahan peledak TNT. Dan jika teknologi pengendaliannya ditemukan, mungkin saja air bisa menjadi salah satu alternatif pengganti energi dari fosil. Soal ini tidak dibahas lebih lanjut, karena tidak termasuk tujuan dari tulisan ini.
Air, yang merupakan sebagian besar dari permukaan bumi, adalah sangat penting bagi semua bentuk kehidupan. Secara teori air dikenal dengan rumus kimia H2O, namun belum diketahui komposisi yang sebenarnya.– H atau hidrogen dikenal sebagai unsur gas yang mudah terbakar, dan oksigen atau O adalah gas pembakar, secara teori komposisi kedua unsur tersebut akan menghasilkan energi panas. Namun faktanya, air memiliki sifat dingin dan berlawanan dengan sifat api yang panas. Keberadaan sifat dingin dari penggabungan dua unsur yang bersifat panas H dan O, menyiratkan masih adanya unsur atau zat lain yang berperan dalam ikatan kovalen ke dua unsur itu.
Dan faktanya, ilmuwan tidak bisa membuat air hanya menggunakan dua unsur : Hidrogen dan Oksigen saja. Mungkin di masa yang akan datang ilmuwan bisa membuat air, tentunya melalui suatu proses yang rumit, dan bahan dasarnya bukan sekedar unsur hidrogen dan oksigen saja. — Dan berkaitan dengan hal tersebut, tentunya kita harus lebih berhati-hati dan tidak sembarangan mengatakan bahwa gagasan air sebagai unsur asal adalah kebodohan atau hanya sekedar mitos
Water Is Not H2O
” It is a straightforward fact, corrections to it are endlessly ignored, but it is simply false to say that water is H2O unless we are speaking very, very loosely. I’ve mentioned this before, pointing to Michael Weisberg’s paper, Water is Not H2O (PDF) and summarizing van Brakel’s “Chemistry as the Science of the Transformation of Substances,” but I notice that Holly VandeWall puts it very nicely in her paper, “Why Water Is Not H2O, and Other Critiques of Essentialist Ontology from the Philosophy of Chemistry,” in Philosophy of Science vol. 74, no. 5 (December 2007)
Dari pembahasan di atas diketahui, air bukanlah sekedar H2O. Oleh karenanya tidak ada alasan bagi para ilmuwan di zaman modern sekarang ini untuk menolak pandangan filosofis yang menyebut air sebagai salah satu unsur asal, disamping tiga unsur asal lainnya : Tanah, Udara, dan Api, serta unsur asal ke-lima : Aether. Jika kita mau mencermati kimia tanah, udara, dan api, maka akan kita ketahui ketiganya itu juga merupakan campuran dari bermacam-macam unsur, dan kita tidak bisa mendefinisikan secara jelas ” rumus kimia “-nya. Misalnya, bahwa tanah yang kita ambil dari satu pulau atau benua, lalu dibandingkan dengan tanah yang diambil dari pulau atau benua lainnya, komposisi unsur-unsur kimianya jelas berbeda. Dan mungkin tidak perlu membandingkan tanah antar pulau atau antar benua, tanah di suatu pulau yang diambil dari lokasi berbeda, komposisi unsur-unsur kimianya juga bisa berbeda. Unsur-unsur kimia yang terkandung di tanah dan udara dapat diketahui, tapi unsur-unsur kimia yang terkandung di api sulit dijelaskan. Sehingga ketika orang menanyakan apakah rumus kimia dari api, para ahli kimia dan fisikawan di zaman modern ini cenderung menghindari untuk memberikan jawaban – karena ketidaktahuannya tentang unsur / partikel pembentuk api – dan menilai bahwa hal itu adalah suatu pertanyaan bodoh. Alasan yang mereka kemukakan, biasanya, karena api bukan materi, api tidak punya massa, api tidak menempati ruang, dsbnya.
Oleh karenanya, jangan menanyakan rumus kimia dari api.

Apakah Api itu sebenarnya ?
Api adalah suatu reaksi berantai yang berlangsung cepat, seimbang dan kontinyu dari tiga elemen : Bahan Bakar, Energi Panas, dan Oksigen.
Rumus kimianya ? Tidak diketahui. Lebih tepatnya sulit didefinisikan. Sama seperti unsur asal lainnya, air – tanah – dan udara, rumus kimianya juga sulit didefinisikan secara tepat, kecuali air yang sudah terlanjur dikenal sebagai H2O, walaupun itu tidak tepat. Api berbeda dengan tiga unsur asal lainnya yang bisa berbentuk zat padat, cair, dan gas, dan masing-masing memiliki massa jenis.Api adalah suatu energi plasma, dan tidak memiliki massa.– Dipandang dari sisi ini, api tidak mengikuti hukum kesetaraan energi dengan massa yang diformulasikan dalam persamaan Einstein yang terkenal E = mc2.

–Hal tersebut merupakan suatu bukti, bahwa relativitas khusus tidak berlaku untuk semua jenis energi – E = mc2 adalah paradoks – dengan kata lain, bahwa ada sesuatu yang tidak memiliki massa tetapi mengandung energi.
Sama seperti tanah yang komposisi unsur-unsur kimianya bisa berbeda-beda, sesama api juga berbeda-beda, Api yang berasal dari bahan bakar kayu misalnya, beda dengan api yang berasal dari bahan bakar berupa plastik, tekstil, atau karet, dan berbeda pula dengan api yang berasal dari bahan bakar minyak atau gas. Oleh karenanya juga ada berbagai jenis api. Orang bisa mengenali perbedaan jenis-jenis api dengan cara mencium bau yang ditimbulkannya, atau dengan melihat warna asapnya. Adanya jenis-jenis api yang tergantung dari jenis bahan bakarnya, mengindikasikan bahwa kecepatan cahaya dari masing-masing sumber cahaya / jenis-jenis api tersebut juga tidak sama. Cahaya itu bertingkat-tingkat, demikian juga kecepatannya. Berarti, hal ini juga tidak mengikuti kesepakatan ilmuwan yang merujuk pendapat Einstein bahwa kecepatan cahaya adalah konstan, dan bahwa kecepatan di ruang hampa adalah 300.000 km / dt ( konstanta c tepatnya : 299.792.458 meter per detik ). Terlebih lagi bahwa apa yang dimaksud dengan ‘ ruang hampa ‘ itu sesungguhnya tidak ada.
Dari uraian tersebut terlihat bahwa sebenarnya yang disebut unsur asal dalam pandangan filosofis, faktanya sulit didefinisikan secara tepat oleh sains modern. Dan oleh karenanya, sekali lagi, ilmuwan modern tidak berhak mengklaim bahwa pandangan filosofis tentang unsur asal itu adalah pandangan yang salah. Dan faktanya, teori relativitas dan mekanika kuantum yang lebih dari satu abad dipandang sebagai dua pilar utama fisika modern, sekarang mulai dipertanyakan.
Dari kutipan di atas terlihat dan mau tidak mau harus dikatakan, bahwa ‘ kekeliruan ‘ fisika modern berawal dari teori relativitas Einstein, yang selama ini dipandang sebagai ‘ teori kuat ‘. Memang tidak diragukan lagi, itu adalah teori yang kuat dan juga indah. Namun jika kita paham tentang apa yang dimaksud dengan ‘ paradoks ‘ dalam filosofi, maka kita akan memahami pula bahwa teori relativitas adalah teori paradoks. Dan justru kandungan paradoksialnya yang membuat teori relativitas nampak sangat indah.
Jika mau melihat lebih dalam lagi, ‘ kekeliruan ‘ sesungguhnya BERAWAL dari hasil eksperimen Michelson pada tahun 1887, yang mengatakan bahwa aether tidak ada. Banyak ilmuwan mengira bahwa eksperimen Michelson tersebut tidak ada hubungannya dengan teori Einstein. Seolah-olah Einstein tidak mengetahui adanya percobaan yang dilakukan oleh Michelson. Namun menurut Lincoln Barnett, penulis buku The Universe and DR.Einstein, justru Einstein yang di masa itu sebagai pejabat muda di Dinas Hak Paten di Berne, mengamati dengan cermat perkembangan hasil percobaan Michelson-Morley. Dan ide Einstein tentang relativitas khusus sesungguhnya didorong oleh hasil percobaan tersebut. Einstein tidak menolak atau membenarkan hasil percobaan Michelson-Morley, namun mengatakan bahwa kita bisa mengabaikan adanya aether sebagai kerangka acuan asalkan mau menerima ide tidak adanya ruang mutlak dan waktu mutlak. Dua hal itu, konsep yang memporakporandakan adanya ruang mutlak dan waktu mutlak, tercermin dalam teori yang dikemukakannya.
Dan mungkin, sekarang ganti kita yang mengatakan kita bisa mengabaikan teori relativitas umum dan hipotesa2/ teori2 turunannya : pengembangan alam semesta, big-bang, black hole, CMB, dark matter, dark energy, Higgs Boson, dsbnya, asalkan kita mau menerima ide adanya luminiferous aether.– Mengapa harus kita katakan itu ? Sebab, semua hipotesa / teori2 yang tersebut itu TIDAK KONSISTEN dengan disiplin keilmuan Astronomi. Atau lebih tepatnya : menyebabkan kekacauan dalam Ilmu Astronomi. Khususnya hipotesa / teori big-bang, black hole, CMB, dark matter dan dark energy : – bukannya mengembangkan ilmu astronomi yang dikenal sebagai ilmu pengetahuan yang tua – mungkin sama tuanya dengan usia peradaban manusia – melainkan justru mengacaukan ilmu ‘ tua ‘ tersebut.
Ironis, karena Einstein yang teorinya digunakan sebagai landasan, sampai akhir hidupnya justru menolak hipotesa big-bang dan black hole. Einstein menekankan pentingnya pengamatan sebagai dasar dari keilmiahan teori fisika. Dan tentunya, hasil pengamatan harus diulang berkali-kali, dan mungkin dengan berbagai cara termasuk pengamatan langsung terhadap fakta yang ada di lapangan.
Salah satu contoh, berkaitan dengan hipotesa alam semesta mengembang yang melahirkan hipotesa big-bang dan hipotesa2 atau teori lainnya, tidak konsisten dengan ilmu bintang / astronomi, khususnya metoda penentuan posisi secara astronomis. Jika alam semesta terus mengembang, maka dari waktu ke waktu jarak antara bintang atau benda-benda angkasa di langit akan berubah menjadi besar. Dan hal tersebut akan mengacaukan perhitungan penentuan posisi secara astronomis. Dengan kata lain, akan merubah metoda penentuan posisi secara astronomis secara total. Nyatanya tidak demikian. Contoh yang sederhana terkait dengan rasi-rasi bintang yang digunakan sebagai petunjuk arah oleh para pelaut dan nelayan, atau dipakai petunjuk oleh petani untuk mulai bercocok-tanam. Rasi-rasi bintang tersebut sudah dikenal sejak ribuan tahun sebelum masehi, dan tidak ada perubahan sampai sekarang ini. Misalnya gugusan bintang yang digunakan untuk petunjuk arah di tengah laut, dengan menggunakan mata telanjang / tanpa alat mereka bisa memastikan arah Utara Sejati dan arah Selatan Sejati secara tepat. Arah Utara Sejati didapat dengan menarik garis lurus ” sabuk beruang besar ” – bintang Dubhe dan Merak – pada rasi bintang Ursa Mayor / bintang Utara. Sedangkan arah Selatan Sejati bisa dipastikan dengan menarik garis lurus dari bintang yang paling atas ke bintang paling bawah – Gamma Crux ke Alpha Crux – dari rasi bintang Crux / bintang Salib Selatan.
Ide alam semesta mengembang membidani lahirnya BigBang, yang diusulkan oleh Henri J.E. Lemaître, seorang pendeta Belgia, astronomer, dan juga sebagai profesor fisika di University of Leuven. BigBang dimaksudkan oleh Lemaitre sebagai penjelasan ilmiah terhadap konsep penciptaan alam semesta yang terdapat di dalam ajaran agama.Tetapi kelihatannya hal itu terlalu dipaksakan, sehingga justru bisa mencederai kaidah ilmiah maupun kebenaran yang terkandung di dalam ajaran agama.Kita ketahui, bahwa menyangkut penciptaan alam semesta merupakan salah satu misteri yang juga diperdebatkan oleh para ahli agama dan filosof.–Dikenal nama-nama seperti Tennemann, E.Renan, L.Gauthier, E.Brehier dan Max Horten mewakili filosof modern.–Dan nama-nama seperti Al-Kindi, Ibnu Sina, Al-Farabi, Al-Ghazali, Ibn Rusyd mewakili filosof Islam di abad 9 – 11 Masehi. Dan yang menarik, pembahasan dari para filosof yang disebutkan itu tidak lepas dari hasil pemikiran Yunani Kuno, antara lain ide-ide Plato, Plotinos dan terutama Aristoteles. Bahkan diantara filosof Islam itu, Al-Kindi dan Al-Farabi, berusaha menjelaskan pemikiran Aristoteles, dan terkesan sebagai ‘ pendukung ‘ ide-ide Aristoteles.Dan di kalangan para filosof Islam itu juga berbeda pendapat, walaupun mereka mengacu kepada ayat-ayat dan kitab suci yang sama. — Dan mungkin kita akan terpesona mengetahui apa yang pernah ditulis oleh Aristoteles lebih dari 23 abad yang lalu, dimana dalam pernyataannya seolah-olah menolak hipotesa / teori BigBang yang diusulkan oleh Lemaitre pada tahun 1927 – 1933.

Cosmic Microwave Background

 

Cosmic Microwave Background Radiation ( CMBR ) sampai sekarang dipandang sebagai bukti utama BigBang. karena radiasi gelombang mikro tersebut diketahui memiliki keseimbangan termal, berarti radiasi gelombang mikro kosmik tersebut berada dalam kondisi tenang pada keadaan alaminya. Kita bisa melihat dari sisi lain, bahwa keseimbangan termal dari CMBR patut diduga disebabkan oleh adanya medium aether yang fungsi utamanya adalah untuk keseimbangan alam. Jadi, CMB tersebut bukan berasal dari sisa-sisa panas dari ledakan besar / BigBang 13,5 milyar tahun yang lalu, melainkan berasal dari pancaran radiasi kosmik bermilyar galaksi, yang berlangsung setiap saat dari waktu ke waktu dan berjalan secara kontinyu, lalu mencapai keseimbangan termal di medium yang merambatkannya.
Singkatnya, CMB merupakan salah satu bukti dari sekian banyak bukti tidak langsung tentang keberadaan luminiferous aether, dan penemuan serta pengakuan adanya CMB memberi konfirmasi kepada kita, bahwa fungsi utama aether adalah untuk KESEIMBANGAN ALAM. Fungsi utama untuk keseimbangan, didalamnya mengandung arti termasuk MENGATUR UKURAN DAN GAYA-GAYA / FORSA dari semua jenis materi dalam kondisi alaminya.namun dalam aspek kimia galaksi sendiri berasal Dari hasil imajiner para saintis karena tidak ada satupun Dari ilmuwan tersebut yg bisa membuktikannya.
Mereka hanya dapat mengasumsikan sebuah kesepakatan fenomena Dari bigbangnya sendiri.

54 Lihat

Tinggal di Indonesia