Ilmu Kealaman Terbatas

Terkirim 1 tahun yang lalu di Pendidikan.

Banyak orang yang mencibir keyakinan dalam sebuah agama - termasuk kekuatan dalam doa - dengan mengukurnya menggunakan ilmu kasat mata seperti ilmu-ilmu ekonomi, fisika atau kealaman yang lain. Mereka tidak membacanya dengan menggunakan ilmu-ilmu kewahyuan.

Ilmu Kealaman Terbatas

Sekitar 2010 silam, saya pernah mengisi sebuah kajian tentang fenomena 'penampakan' atau 'uka-uka' yang saat itu sedang ramai diperbincangkan karena ada tayangan beberapa stasiun TV terkait acara tersebut.

Konsentrasi kajian tersebut bukan pada dampak yang ditimbulkan akibat adanya tayangan, tapi lebih kepada ada atau tidaknya alam gaib (tak kasat mata) dan bagaimana cara membuktikannya dari sudut pandang ilmu kealaman (sains).

Paparan saya awali dengan sebuah pertanyaan ke forum: "Apakah anda percaya ada sinyal hand phone (GSM) di sekitar anda?"

Serentak peserta kajian menjawab: "Percayaa!!".

Lalu saya melanjutkan pertanyaan: "Bisa anda tunjukkan sinyal hand phone tersebut?" Semua peserta kajian langsung memperlihatkan indikator sinyal pada layar hand phone masing-masing.

"Bisa kah anda perlihatkan langsung dengan mata anda seperti apa bentuk sinyal hand phone tersebut di udara?", tanya saya selanjutnya menimpali jawaban mereka.

Mereka semua tertawa seraya menjawab: "Gak bisa dan gak mungkin mas. Gak Kelihatan!".

Dalam ilmu fisika, fenomena-fenomena alam tersebut diterjemahkan dengan istilah BESARAN. Besaran untuk menjelaskan perbedaan posisi dinamakan PANJANG. Besaran untuk menjelaskan 'berat' suatu benda dinamakan MASSA. Besaran yang digunakan untuk mejelaskan lama atau tidaknya suatu kondisi dinamakan WAKTU. Besaran untuk menjelaskan panas dinginnya suatu keadaan atau benda dinamakan SUHU, dan seterusnya.

Semua besaran dalam definisi ilmu fisika harus memiliki alat ukur dan memiliki satuan. Panjang diukur dengan mistar dan bersatuan meter, massa diukur denagn neraca dan bersatuan kilogram, waktu diukur dengan jam dan bersatuan detik, atau suhu diukur dengan termometer dan bersatuan derajat. Jika sebuah fenomena alam tidak mampu diukur dengan alat ukur maka tidak bisa dikatakan sebagai besaran, misalnya rasa cinta.

Sekarang mari kita renungkan sejenak kenyataan dalam peristiwa dialog kajian di atas. Sebenarnya kita semua percaya bahwa ada keterbatasan pada diri kita dalam melihat dan menjelaskan fenomena alam hanya dengan kasat mata atau panca indera kita secara umum. Oleh karenanya kita memerlukan alat ukur tersebut dalam membaca fenomena alam tersebut.

Panca indera kita sangatlah subyektif dalam menilai atau mengukur sesuatu. Setap orang bisa berbeda dalam mendefinisikan tinggi seseorang misalnya. Sebagai misal, Pak Jokowi bagi orang Indonesia dianggap berbadan tinggi. Tapi coba tanyakan ke Cristiano Ronaldo, dia akan bilang Pak Jokowi pendek. Mengapa bisa berbeda? Karena acuan masing-masing orang berbeda dalam mengukur. Ini yang dinamakan subyektivitas.

Bahkan, jangankan pada dua orang yang berbeda, badan kita sendiri pun akan subyektif dalam mengukur sesuatu dalam kondisi berbeda. Sebagai contoh: jika ada tiga ember masing-masing air berisi air hangat, air normal (suhu kamar), dan air dingin. Tangan kiri kita masukan ke air hangat, sementara tangan kanan kita masukan ke air dingin selama 1 menit. Kemudian pindahkan tangan kiri kita ke ember yang berisi air normal, maka kita akan mengatakan air tersebut dingin. Saliknya ketika tangan kanan kita yang dipindahkan ke air normal, maka kita akan mengatakan bahwa air normal tersebut hangat.

Namun akan amat akurat hasilnya jika orang Indonesia atau orang Jerman mengukur tinggi badan Jokowi dengan meteran tukang jahit, mereka akan mengukur dengan hasil yang sama. Atau ketika tangan kiri dan tangan kanan kita mengukur suhu pada air normal dengan termometer, maka akan menghasilkan suhu yang sama pula.

Memahami kondisi tersebut, maka amat naif jika kita tidak mempercayai hal-hal yang kita anggap 'gaib'. Tuhan kita adalah dzat (bukan zat) yang gaib. Begitu pula dengan takdir kita, adalah sesuatu yang gaib pula. 'Melihat' nya harus dengan alat ukur tersendiri. Orang-orang yang terbiasa mengikuti ajaran Tuhan akan mampu 'melihat' dan 'merasakan' kehadiran Nya, sementara yang jauh dari ajaran Tuhan akan kesulitan.

Banyak orang yang mencibir keyakinan dalam sebuah agama - termasuk kekuatan dalam doa - dengan mengukurnya menggunakan ilmu kasat mata seperti ilmu-ilmu ekonomi, fisika atau kealaman yang lain. Mereka tidak membacanya dengan menggunakan ilmu-ilmu kewahyuan. Padahal mereka sendiri yakin bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang tidak bisa kita baca dengan teori ilmu kealaman yang akhirnya kita menggunakan kata 'ajaib'. Padahal ilmu kita belum nyampe.

Kita percaya bahwa dalam perjalanan hidup tidak semua atau bahkan banyak sekali keinginan dan perhitungan yang berasal dari otak kita tidak terwujud. Di sisi lain, dalam setiap ikhtiar yang kita lakukan secara maksimal, kita juga melakukan doa kepada Tuhan yang gaib. Artinya sebenarnya kita sendiri mengakui bahwa diri dan ikhtiar kita terbatas, dan ada kekuatan Maha Dahsyat Yang berperan dalam setiap kejadian dalam hidup. Upaya kita hanyalah 'sebagian kecil' dari terjadinya sesuatu. So, masihkah kita 'mencibir' kekuatan sebuah doa hanya karena logika otak kita belum mampu memahami dan menerimanya?

Coba renungkan dari dialog dalam kajian di atas, bahwa sesuatu yang tidak telihat oleh mata kita seperti sinyal GSM, ternyata kita yakini ada.

Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (QS al A'raaf [7]: 188)

Wallahu a'lam

Tag: Agama, Science, Iman, Akal,
202 Lihat

Tinggal di Indonesia