Orang Tua, Anak dan Pendidikanya

Terkirim 2 tahun yang lalu di Pendidikan.

Orang tua adalah wahana pendidikan pertama untuk putra putrinya agar tercipta karakter yang kuat, harus dididik dengan suplemen pendidikan yang baik agar tercipta generasi yang pandai jadi kebanggan orng tua bangsa dan negera

Orang Tua, Anak dan Pendidikanya
Hai Friend Brothe n Sisthe Selamat pagi semuanya apa kabar semuanya ? semoga kalian baik2 saja semoga hari ini dapat memberikan kebahagian untuk kita semua 
 
Jika kamu sedang berstatus seorang ibu atau calon ibu /Bpak atau calon bapak pasti suatu saat nanti kamu akan jadi pakar pendidik nantinya secara dadakan akan jadi pendidik untuk awal kehidupan putra-putri kamu
 
Ini adalah realita kehidupan yang tidak bisa kamu hindari, kecuali kamu ingin jomlo seumur hidup dalam kesendirian
 
Sebagai seorang pendidik atau calon pendidik  sebaiknya kamu harus mempersiapkan diri/Investasi pengetahuan mulai saat ini demi kemapanan caraberfikirmu agar menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam menyikapi berbagai keadaan
 
Setalah saya membaca banyak referensi tentang hal ini "Orang Tua, Anak dan Pendidikan" ada kisah yang  menarik yang dapat kita petik dari kisah Rhenald Kasali seorang guru lulusan Universitas Illinois, Chicago sekaligus pakar pendidik Fakultas Ekonomi, UI  inspirasinya bisa menjadi pelajaran untuk kita semua
 
Lima belas tahun lalu saat masih tinggal di Amerika Serikat beliau pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anaknya belajar
 
Masalahnya sepele, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anaknya itu telah diberi nilai E (excellence) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali. Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru memulai cara belajar bahasa.
 
Karangan yang di tulis oleh anaknya itu pernah ditunjukkan kepada ayahnya, Menurut ayahnya tulisan itu jeleek banged
 
Malah justru mendapat pujian dari gurunya, Ada apa? Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, lantas bagaimana cara anak saya itu belajar arti dari kesungguhan nada protes kepada ibu gurunya disekolah  “Maaf Bapak dari mana?” kata ibu gurunya “Dari Indonesia,” jawab ayahnya
 
Lalu Ibu guru memberikan penjelasan "Saya mengerti kecemasan bapak, Saya sudah 20 tahun mengajar Setiap anak berbeda-beda. Namun untuk anak sebesar anak bapak, baru tiba dari negara yang bahasanya bukan bahasa Ibunya, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat,” ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anaknya itu" demikian penjelasan ibu gurunya lalu tersenyum
 
Coba perhatian, simak baik2 ada pelajaran yang sangat berarti di sana
 
1. Cara Budaya Menghukum
 
Dalam diskusi itu ada pelajaran yang begitu berharga yaitu cara pandang dari kacamata yang berbeda dari seorang guru untuk mendidik dan membangun encouragement pada seseorang anak
 
Sering kali saya bertemu ayah-ibu dan guru memaksakan kehendaknya bahkan menghukum untuk mamaksakan keinginannya dalam mendidik anak2nya tanpa memberi nilai filosofi untuk merangsang dorongan motivasi si-anak
 
Diluar negeri contohnya Australia makin tinggi grade pendidikan seseorang terkadang justru makin rendah grade anak didiknya
 
seorang guru profesional diposisikan sebagai guru paud sebab perkembangan otak anak pada masa golden age harus betul2 mendapatkan suplemen pendidikan yg baik dan profesional
 
demukian itulah guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan para pendidik disana mampu mengoptimasi karakter mereka yang sangat kuat Sehingga terciptalah karakter yang terbangun, bukan karakter yang bobrok
 
Kembali ke pengalaman Bpk Raynald Kasali di atas, ibu guru mengingatkan padanya.
“Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan. Dia juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal.
 
Anak-anak Indonesia yang baru tiba disana umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras
 
sebagaimana anaknya telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Dalam kehidupan sehari-hari anaknya telah menunjukkan kemajuan yang sangat baik
 
Malam itu ayahnya mendatangi anaknya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Dan memeluknya di tengah-tengah rasa bersalahnya pada penilaian yang tidak objektif. 

Karena telah memprotes Gurunya sebab nilai E yang berarti excellent (sempurna) yang telah diberikan pada anaknya, tetapi pada saat itu justru ayahnya  mengatakan “gurunya salah”. Kini ayahnya faham dan mampu melihat anaknya dari kacamata yang berbeda.
 
2. Melahirkan support encouragement
 
Bisakah kita mencetak orang-orang hebat jika dididik dengan cara menciptakan hambatan dan rasa takut? dibentuk oleh sejuta ancaman gesper, rotan pemukul, penggaris, tangan bercincin batu, spidol, penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, dan seterusnya.
 
Ucapan dibesar2kan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas kamu...; Kalau Kamu,...; Nanti akan,...; dan tentu saja ancaman tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah
 
Sehingga sekolah seakan hanya rutinitas pertemuan biasa yang membuat kita tidak nyaman belajar karna dorongam ketakutan nilai jelek, mungkin membuat kita menjadi lebih disiplin namun tidak mendorong kita untuk dapat berimrovisasi dalam berfikir luas yang lebih kreatif, justru terkadang mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.
 
Temuan-temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis terkadang bisa mengkerut (mengecil) pesimis atau sebaliknya membesar, sensitif terhadap isu2 disekitar dan lebih optimist
 
Semua itu sangat tergantung dari stimulasinya ancaman ataukah dukungan/supportiv dari orang-orang di sekitar kita misalnya teman, orang tua dan keluarga
 
Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun manakala stimulasinya salah makanya ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar alias bodoh.
 
Tetapi juga ada orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh.
Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, jika dengan kalimat bijak dapat merubah anak didik kita mengapa harus menaburkan ancaman dan ketakutan.
 
Mari kita Bantu anak didik kita untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti tapi membangun karakter mereka agar menjadi sosok manusia yang lebih bekwalitas di kehidupanya
 
Salam Hangat, 
Semoga mengispirasi
 
Andi Suardi Nasa, MT |
Resensi by Prof Raynald Kasali, Ph.D, MM | Illinois, Chicago

Tinggal di Indonesia