MEMPERTANYAKAN KEPAKARAN MAHFUD M.D.

Terkirim 2 tahun yang lalu di Berita dan Politik.

Oleh sebab itu, saran saya kepada Mahfud M.D.: Silakan Anda beristigfar, memperbarui syahadat, mandi taubat, salat taubat lalu merevisi pernyataannya itu. Dia tidak sadar sudah melecehkan Rasulullâhﷺ ketika itu.

MEMPERTANYAKAN KEPAKARAN MAHFUD M.D.

Sebelumnya, perlu saya sampaikan kepada publik bahwa saya bukan orang HTI juga saya termasuk yang paling anti-ISIS. Silakan Anda selidiki saya jika mau.
Tulisan ini saya buat karena sudah tidak tahan melihat kelakuan pendek-akal Mahfud M.D. Nah, mari kita mulai pembahasan ini dengan mencermati isi video pendek berikut.


 

● Menit-menit awal:
Di sini saya setuju, memang HTI salah kalau memandang khilafah itu sistem pemerintahan. Jelas bukan. Khilafah itu sistem kepemimpinan ilahiyah, bukan sistem pemerintahan.


Perintah khalifah, berbeda kedudukannya dengan perintah presiden, raja, atau lainnya. Perintah khalifah itu berdasarkan kitab suci, bukan berdasarkan kitab undang-undang buatan manusia.

Tapi tidak salah Ustaz Felix mengatakan khilafah itu sebuah keniscayaan. Memang begitu amanah sabda Rasulullâhﷺ!

تكون النبوة فيكم ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء الله أن يرفعها ثم تكون ملكا عاضا فيكون ما شاء الله أن يكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون ملكا جبرية فتكون ما شاء الله أن تكون ثم يرفعها إذا شاء أن يرفعها ثم تكون خلافة على منهاج النبوة ثم سكت

“Adalah Kenabian (nubuwwah) itu ada di tengah-tengah kamu sekalian, yang ada atas kehendak Allâhﷻ. Kemudian Allâhﷻ mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah), yang ada atas kehendak Allâhﷻ. Kemudian Allâhﷻ mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang menggigit (Mulkan ‘Aḍḍan), yang ada atas kehendak Allâhﷻ. Kemudian Allâhﷻ mengangkatnya apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Kekuasaan yang memaksa (diktator) (Mulkan Jabariyah), yang ada atas kehendak Allâhﷻ. Kemudian Allâhﷻ mengangkatnya, apabila Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Nabiﷺ) diam.” [Musnad Ahmad, Juz IV, hlm, 273, nomor hadis 18.430]


Satu hal yang dilalaikan HTI ialah bahwa khilafah itu harus kita yang mewujudkannya. Bukan seperti itu. Tegak-runtuhnya khilafah hanya atas kehendak Allâhﷻ

 

 

Tapi kelalaian Mahfud M.D. lebih parah lagi:
Jika Mahfud M.D. memandang transnasionalisme dalam Islam itu buruk. Berarti dia memandang bahwa Islam pernah menguasai 2/3 bumi itu juga keburukan. Dia tidak sadar, kalau tidak pernah ada kejayaan Islam yang menguasai 2/3 bumi itu, jangan-jangan dia sendiri (dan kita semua yang di ujung Timur) pun tidak akan pernah merasakan nikmat iman Islam.

Apa? Ada 62 model khilafah di keanggotaan OKI saat ini?
Pakar tata negara level profesor tidak tahu bedanya sistem khilafah, demokrasi, sosialis-komunis, dan monarki? Sejak kapan sistem kepemimpinan Islam berbentuk negara? Daulah Islam? Tidak ada. Tidak tahu bedanya daulah dan khilafah? Astagfirullâh. 

...dan sisa komentarnya di video hanya membuktikan bahwa Mahfud M.D. ini hanya profesor kelas text book.



● Menit 1:35
Mahfud M.D.
"Dari sudut akidah...teologis..misalnya, memang tidak ada di dalam sumber primer Islam itu ajaran khilafah sebagai sistem. Tidak ada. Kita bisa berdebat kapan saja. Di mana dasarnya khilafah itu sebagai sistem." 



Tanggapan

Sumber primer Islam ajaran khilafah 1:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَـٰتَلُونَ بِأَنَّهُمۡ ظُلِمُواْ‌ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصۡرِهِمۡ لَقَدِيرٌ (٣٩) ٱلَّذِينَ أُخۡرِجُواْ مِن دِيَـٰرِهِم بِغَيۡرِ حَقٍّ إِلَّآ أَن يَقُولُواْ رَبُّنَا ٱللَّهُ‌ۗ وَلَوۡلَا دَفۡعُ ٱللَّهِ ٱلنَّاسَ بَعۡضَہُم بِبَعۡضٍ۬ لَّهُدِّمَتۡ صَوَٲمِعُ وَبِيَعٌ۬ وَصَلَوَٲتٌ۬ وَمَسَـٰجِدُ يُذۡڪَرُ فِيہَا ٱسۡمُ ٱللَّهِ ڪَثِيرً۬ا‌ۗ وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُ ۥۤ‌ۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِىٌّ عَزِيزٌ (٤٠)

Telah diizinkan [berperang] bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allâh, benar-benar Mahakuasa menolong mereka itu. [yaitu] orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: "Tuhan kami hanyalah Allâh". Dan sekiranya Allâh tiada menolak [keganasan] sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allâh. Sesungguhnya Allâh pasti menolong orang yang menolong [agama]-Nya. Sesungguhnya Allâh benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Q.S. Al-Hajj [22]:39-40)

Ayat di atas ialah wahyu perintah perang (jihad fisik) yang pertama. Turun di era hijrah dan menjadi asbab tonggak sejarah Perang Badar.

Fakta sejarah dunia:
Perang Badar yang dimenangkan umat Islam ketika itu menjadi tonggak sejarah yang memaksa dunia mengakui kekuatan politik baru yang bernama Islam. Dengan demikian, kemenangan Perang Badar juga menjadi tonggak lahirnya sistem peradaban baru yang bernama Islam.

Coba Anda pikir dari lingkup perang saja. Mungkin tidak suatu kubu bisa memenangkan sebuah peperangan tanpa berlandaskan suatu sistem kepemimpinan? Mustahil! Kelompok preman pasar saja punya sistem kepemimpinan walaupun bentuknya tidak tertulis (tahu sama tahu).

Ingat, Perang Badar, perang pertama dalam sejarah Islam, terjadi pada tahun 624 Masehi, sedangkan Piagam Madinah ditetapkan pada tahun 622 Masehi. Dua tahun sebelum berperang, sudah terbentuk dulu sistem khilafah. Jadi sebelum dunia mengetahui ada kekuatan peradaban baru bernama Islam, sistem khilafah sudah terlebih dahulu terbentuk!

Sistem kepemimpinan (khilafah) pertama yang dipimpin Nabi Muḥammad Rasulullâhﷺ yang terdiri atas kaum muslim, yahudi, kristen, bahkan ateis ketika itu sudah sepakat bersatu di dalam wadah yang disebut Masyarakat Madani (Madaniyah).

Apa UUD yang dipakai masyarakat Madinah ketika itu?
Quran, khususnya ayat ke-40 Surah Al-Hajj di atas ("Dan sekiranya Allâh tiada menolak [keganasan] sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allâh.")

Ayat di atas juga menjelaskan betapa perintah khalifah dengan perintah raja, presiden, kanselir, perdana menteri itu beda. Benar-benar beda! Khalifah memerintah berdasarkan petunjuk Allâh (dan sunnah Rasulullâhﷺ), bukan berdasarkan pertimbangan nafsu dan kecerdasan otak si pemimpin!

Jadi masyarakat Madinah itu dipimpin Rasulullâhﷺ dengan sistem khilafah yang berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan konvensi, bukan berdasarkan kecerdasan para pakar tata negara!

Apakah yang begini saja tidak terpikir oleh pakar tata negara bergelar profesor sekelas Anda, Mahfud M.D.?

 

Sumber primer ajaran khilafah 2:
Apa Anda, Prof. Mahfud tidak pernah tahu keberadaan hadis-hadis sahih tentang khilafah? Ada banyak lho. Petikan hadis di awal uraian tadi salah satunya.


"Kalau sebagai sebutan bagi pemimpin, iya." 
Subhanallâh, sekelas profesor tidak tahu kalau istilah khilifah itu mengacu kepada sistemnya, sedangkan istilah khalifah itu mengacu kepada pucuk pimpinan di dalam sistem tersebut. 

Memang benar, makna khilafah itu artinya pengganti kepemimpinan Nabiﷺ. Tapi tidak bisa Anda, Mahfud M.D., mengatakan khilafah itu sebentuk ijtihad karena khulafa`ur rasyidin melanjutkan kepemimpinan sepeninggal Rasulullâhﷺ itu tinggal melanjutkan saja sistem yang sudah ada dan yang sudah diterapkan selama Rasulullâhﷺ memimpin.

Khulafa`ur Rasyidin melanjutkan kepemimpinan dalam khilafah itu artinya melaksanakan sunnah Nabiﷺ dan bukan ijtihad! 

Sekarang mari simak komentar munkar Mahfud M.D. di video ini:

[video lengkapnya di sini: Prof. Mahfud MD: Kita Selalu Curiga Mencari Motif Dibalik Peristiwa

Astagfirullâh!
Khilafah yang terbukti menjadi model peradaban ideal di Madinah, yang oleh Barat diidam-idamkan sebagai civil society itu kamu bilang jauh lebih jelek daripada demokrasi? Dari mana sih Anda mendapat gelar profesor itu?

Percayakan saja pada demokrasi?
Apa Profesor Mahfud M.D. tidak tahu atau pura-pura tidak tahu bahwa dalam sistem demokrasi yang "ideal" itu banyak sekali celah politikus busuk untuk bermain. Suara rakyat atau suara kontrak politik yang berkuasa selama ini di demokrasi Indonesia? Kandidat yang minta dipilih rakyat bukannya musti punya duit?Demokrasi memang tampak ideal dalam tataran teori, padahal begitu banyak celah kelemahannya. Ini kita bicara dalam kenyataan praktiknya. Tolonglah, kalau jadi profesor itu jangan hanya pakar di teorinya saja. Tolonglah, kalau mau berbual itu hargai logika orang yang mau kamu bodohi.



وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٍ۬ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُ ۥۤ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُ ۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلاً۬ مُّبِينً۬ا

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak [pula] bagi perempuan yang mu’min, apabila Allâh dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan [yang lain] tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allâh dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (Q.S. Al-Ahzab [33]:36)

 

Sungguh, andai ketika itu saya adalah salah seorang panelis yang hadir ketika Mahfud M.D. mengeluarkan statement kemunkaran itu, saya tidak akan tinggal diam. Sungguh saya tidak akan tinggal diam.

Akan saya tegur kelakuan dia itu! Akan saya terangkan pada Mahfud M.D. mengapa setiap muslim yang sebenar Islam akan tetap selalu merindukan khilafah meskipun hingga detik ini kita terpaksa hidup di dalam sistem demokrasi "yang ideal" ini.

 

Muslim sebenar Islam tidak perlu menjadi ISIS untuk merindukan keniscayaan khilafah akhir zaman!



Oleh sebab itu, saran saya kepada Mahfud M.D.:
Silakan Anda beristigfar, memperbarui syahadat, mandi taubat, salat taubat lalu merevisi pernyataannya itu. Dia tidak sadar sudah melecehkan Rasulullâhﷺ ketika itu.

Saya sarankan juga kepada seluruh audiens muslim di studio ILC ketika itu untuk beristigfar. Kalau Syaikh Abdul Qadir al-Jailani masih hidup dan menyaksikan itu, niscaya beliau akan menegur kalian, "Diam kalian itu diam maksiat!"

"Wahai Fulan, berusahalah agar engkau tidak menyakiti siapa pun. Tetapi ketika agama memerintahkanmu menyakitinya, maka dalam hal ini berbicara adalah ibadah dan diam adalah maksiat." [Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam dalam Kitab Faṭur Rabbani wal Faiḍur Raḥmāni]


Siapa pun yang di hatinya tebersit, "si adam ini lagi cari tenar sok-sokan menasihati sekelas profesor." Maka saya balas sapa di hatinya itu dengan mesra: Pak yu.

1751 Lihat

Tinggal di Indonesia