[6] JENJANG ILMU TAUHID: DASAR-MADYA-HAKIKI

Terkirim 2 tahun yang lalu di Pendidikan.

[Seri Mengenal Tauhid] - Memahami lalu mengamalkan kebenaran mustahil dilakukan tanpa mengetahui apa itu kebatilan. Demikian juga dalam bertauhid, kita perlu mengetahui apa yang disebut syirik beserta jenis-jenisnya.

[6] JENJANG ILMU TAUHID: DASAR-MADYA-HAKIKI

Memahami lalu mengamalkan kebenaran mustahil dilakukan tanpa mengetahui apa itu kebatilan. Demikian juga dalam bertauhid, kita perlu mengetahui apa yang disebut syirik beserta jenis-jenisnya.

 

Pengertian Syirik

Syirik ialah kata yang berasal dari bahasa Arab. Kata asalnya dalam bahasa Arab secara etimologi terkait dengan kata شِرْك - يَشْرَكُ - شَرِكَ , ’syarika – yasyraku – syirk’ yang berarti 'sekutu' atau 'menyamai'. Dalam ilmu tauhid, syirik dimaknai sebagai perbuatan menyekutukan Allāh atau mempersamakan Allāhﷻ dengan selain-Nya.

 

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
“Dan Barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allāh, Padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Q.S. Al-Mu’minūn [23]: 117).

 

Tiga Jenis Syirik

Pelaku syirik akan berakhir di neraka (Q.S. Al-Maidah [5]: 72) oleh sebab hapusnya segala amal salih yang telah dikerjakannya (Q.S. Al-An`am [6]: 88). Dilihat dari sisi perbuatannya, syirik terbagi menjadi tiga jenis, yaitu syirik jalisyirik khafi, dan syirik khafi khafiyyun khafi.

⦁ Syirik jali, yaitu perbuatan menyekutukan Allāh secara jelas dan nyata. Syirik jenis ini erat kaitannya dengan jasad, baik itu berupa perkataan maupun perbuatan, yang nyata disaksikan mata-kepala, dan ada kalanya terkait dengan benda-benda nyata lainnya.


Contoh:

  • melakukan amal-amal pesugihan: memelihara tuyul, ngipri monyet, ngepet babi, dan sebagainya,
  • memasang susuk di bagian tubuh tertentu agar jasad tampak lebih memesona,
  • memakai jimat-jimat berupa cincin, kalung, keris, rajah-rajah, untuk perlindungan diri,
  • menemui dan bertanya pada “orang pintar” (termasuk kyai) perihal rezeki, jodoh, pekerjaan, dan sebagainya, 
  • mengucap “permisi” setiap kita melintasi daerah yang dianggap angker atau keramat,
  • menghitung dan menentukan “hari baik” demi kesuksesan hajat tertentu,
  • mengamalkan ilmu khadam dengan memanfaatkan jin untuk perlindungan diri dan keluarga,
  • mengamalkan ritual panggil arwah para nabi, malaikat, dan wali-wali yang sebenarnya mustahil kebenarannya,
  • dan sebagainya.

 

 Syirik khafi, yaitu perbuatan menyekutukan Allāh secara samar dan tersembunyi. Syirik jenis ini terkait dengan amalan hati dan biasanya tidak disadari oleh pelakunya.

“Adakah kamu mau aku beritahukan tentang satu perkara yang aku takuti ke atas kamu lebih daripada dajjal?Mereka menjawab,” Sudah tentu wahai Rasulullāh! Baginda pun berkata, “Syirik Khafi, yaitu seorang lelaki bangun salat lalu dia memperelokkan salatnya karena ada orang memperhatikannya (riya;bukan kerana Allāh).” (H.R. Ibnu Majah)

Contoh:

  • riya, sum`ah, ujub, takabbur,
  • memakai cincin dengan mata batu langka dan mahal sebagai tanda prestise,
  • menyimpan muṣaf Quran kecil di saku untuk menjaga kejujuran,
  • memandang gelar-gelar keduniaan sebagai tolak ukur kebenaran dan status sosial (seperti gelar keningratan, kesarjanaan, kehajian, kehabiban, dsb.)
  • membayangkan lafaz alif-lam-lam-ḥa di dalam salat,
  • mengitikadkan huruf alif-lam-lam-ḥa atau mim-ḥa-mim-dal yang salat,
  • membayang-bayangkan wajah mursyid sebagai waṣilah di dalam berzikir,
  • mengamalkan zikir napas; mengitikadkan napas keluar-masuk itu sebagai dialog Asma Ḥu—Allāh,
  • dan sebagainya.

 

⦁ Syirik khafi khafiyyun khafi, yaitu syirik yang halus teramat halus. Syirik ini sebenarnya induk dari segala jenis syirik karena adanya nafsu ananiyah; ego, ke-aku-an. Syirik jenis ini contohnya hanya satu: merasa ada diri.

Gambaran mengenai syirik paling halus ini akan lebih mudah dipahami dari perkataan Imam Al-Ghazali yang dilengkapkan oleh K.H. Undang Sirad menjadi sebagai berikut.


"Setiap manusia binasa, kecuali orang berilmu;
orang berilmu pun binasa, jika tidak mengamalkan ilmunya, 
orang yang mengamalkan ilmu pun binasa, jika tidak disertai ikhlas,
orang ikhlas pun binasa, jika masih merasa keakuan diri: 
masih ada maksiat batin."


Bagaimana kita dapat memahami pernyataan di atas itu bukan hal yang mustahil dan bukan mengada-ada? Begini:
⦁ Allāh Ada, kita ada.
⦁ Bedanya: Allāh Ada Sedia-Ada Sendiri-Nya, sedangkan kita di-ada-kan Allāh.
⦁ Jadi, siapa yang sebenar-benarnya ada itu? Lā mawjudun illa Allāh.

 


قَدِمَ الـنَّبــِيُّ صلى الله عليه وسلم مِنْ غَزاةٍ لَهُ فَقَالَ لَهُمْ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَدِمْتــُمْ خَيْرَ مقدَمٍ، وَقَدِمْتــُمْ مِنَ الْجـِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَى الْجـِهَادِ اْلأَكْبَرِ، قَالُوْا وَمَا الْجـِهَادُ اْلأَكْبَرِ يَا رَسُوْلَ اللهِ، قَالَ: مُجَاهَدَةُ الْعَبْدِ هَوَاهُ
“Rasulullāhﷺ pulang dari sebuah perang, lalu Rasulullāhﷺ bersabda kepada sahabat-sahabat beliau: “Kalian datang dengan datang yang baik, kalian datang dari jihad kecil menuju jihad yang besar.” Sahabat bertanya: “Apakah gerangan jihad besar itu, wahai Rasulullāh?” Rasulullāhﷺ pun menjawab, “Berperangnya hamba melawan hawa nafsunya.” (H.R. Baihaqi)

 

Jenjang Ilmu Tauhid

Dilihat dari sisi tingkatannya, ilmu tauhid dapat dibedakan menjadi tiga tahapan. Tahapan-tahapan pengetahuan ini dirumuskan berdasarkan kadar kedalamannya, kesulitan pencapaian, serta kehalusan dimensinya.

  • Tauhid dasar, yaitu ilmu tauhid bagi kalangan umum dan awam, berisi pengetahuan untuk membersihkan diri kita dari syirik jali.
  • Tauhid madya (menengah), yaitu ilmu tauhid bagi kalangan khusus (khawwas), berisi pengetahuan untuk membersihkan diri kita dari syirik khafi.
  • Tauhid hakiki, yaitu ilmu tauhid bagi kalangan khusus di dalam khusus (khawwasul khawwas), berisi pengetahuan membersihkan diri kita dari syirik khafi khafiyyun khafi.

 

Ketiga tahapan ini dalam praktiknya tentu tidak terpisah-pisah dengan jelas seperti pada teorinya di atas. Buku yang Anda pegang ini diusahakan untuk dapat menjelaskan ketiganya seoptimal mungkin—tidak terlalu mendetail-rumit, tetapi juga tidak melewatkan bagian-bagian pentingnya—meskipun penyampaian ilmu tauhid pada buku ini pada dasarnya difokuskan untuk memperkenalkan pemahaman-pemahaman tauhid untuk level hakiki.


Allāh Menghendaki Kemudahan Bagimu

Perihal syirik khafi khafiyyun khafi dan antisipasinya dengan pahaman dan amalan tauhid hakiki insyaAllāh akan kita bahas lebih dalam sampai ke praktik praktis di kehidupan keseharian kita. Saran penulis, jangan belum apa-apa sudah terbetik di hati seperti ini, “Duh, rasanya susah sekali mengamalkan ilmu tauhid ini!” Itu adalah prasangka. Ingatlah bahwa “Aku sebagaimana persangkaan hamba-Ku.” (hadis qudsy). Jika kita sangkakan sulit, maka ia akan benar-benar menjadi sulit. Jika kita sangkakan bukan mustahil, maka tiada yang mustahil bila Allāh Menghendakinya atas kita.

وَٱلَّذِينَ جَـٰهَدُواْ فِينَا لَنَہۡدِيَنَّہُمۡ سُبُلَنَا‌ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلۡمُحۡسِنِينَ
Dan orang-orang yang berjihad untuk [mencari keridaan] Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (Q.S. Al-Ankabut:69)


Di sisi lain, persangkaan negatif seperti di atas itu sama saja dengan menafikan bahwa Islam itu agama fitrah dan menuduh Allāh menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya. Yang namanya fitrah itu sudah sedia-ada Allāh karuniakan pada setiap manusia: bukan hanya pada diri nabi saja, pada diri umat juga ada. Kita bukan nabi, tetapi kita ini umat nabi. Umat nabi yang sejati itu yang sebenar-benar meneladani nabinya.

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِڪُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِڪُمُ ٱلۡعُسۡرَ
Allāh menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.(Q.S. Al-Baqarah [2]:185)

 


Disarikan dari Ilmu Sedikit untuk Segala²nya: Dasar-Dasar Tauhid Hakiki [ISBN 978-602-7323-52-0]

Tag: IlmuTauhid,
1237 Lihat