[5] PENGERTIAN SEJATI TAUHID DAN URGENSI MEMAHAMINYA

Terkirim 2 tahun yang lalu di Pendidikan.

[Seri Mengenal Tauhid] - Mungkin pernah terbit pertanyaan seperti ini dalam hati Anda: mengapa kita musti ber-Islam dengan kepahaman tentang ilmu tauhid (makrifat)? Apakah dengan bersyariat saja tidak cukup?

[5] PENGERTIAN SEJATI TAUHID DAN URGENSI MEMAHAMINYA

Pengertian Tauhid Sebenarnya

Pengertian Tauhid—sebagaimana dirumuskan oleh para ahli (bahasa Arab)—mengacu pada makna “menjadikan satu-satunya”. Makna ini diambil secara etimologi atas keterkaitannya dengan kata  وَحَّدَ – يُوَحِّدُ – تَوْحِيْدًا, ’waḥḥada – yuwaḥḥidu – tawḥidan’ yang semuanya berasal dari kata waḥidun, esa, atau tunggal. Dikaitkan dengan kedudukannya sebagai pondasi akidah Islam, tauhid artinya menjadikan Allāhﷻ sebagai satu-satunya Tuhan.  Lā ilaaḥa illa Allāh.  

Pengertian tauhid di atas baru sebatas makna permukaan. Pengertian dan pengamalan tauhid secara peripurna, tidak cukup hanya dengan mengatakan “Allāh itu Esa” sebab bukan hanya penganut Islam yang mengatakan Tuhan itu Esa. Setiap orang (nonmuslim) yang waras dan jujur juga mengakui hal ini. Jika pengertian tauhid hanya sebatas itu, tentu tidak ada bedanya Islam dengan non-Islam. Padahal Allāhﷻ sendiri menyatakan bahwa hanya Islam yang diridai-Nya sebagai agama bagi bangsa manusia (dan bangsa jin).

Pengertian tauhid sebenar-benarnya ialah mengesakan segala sesuatu, termasuk diri kita, kepada Allāh. Itu semua karena keberadaan kita ini esa beserta Allāh: jauh tak-berjarak, dekat tiada antara. Zahir-batin kita ini sudah dalam liputan Allāh, beserta Allāh sejak azali (Q.S. Fussilat:54).

Tentu maksud dari mengesakan diri kepada Allāh itu bukan kita merasakan diri manusia ini sebagai titisan Tuhan atau ada Tuhan bertempat di dalam diri kita sehingga disangkakan segala perbuatan diri kita itu juga perbuatan Tuhan. Bukan. Sama sekali bukan seperti itu.

Ingat, pada diri manusia itu ada 3 in 1: ruh—nafsu—jasad.
Jadi, maksud mengesakan diri kepada Allāh ialah menyelaraskan segala kehendak dan gerak zahir-batin kita sesuai dengan kehendak dan gerak ruh, bukan atas kehendak dan gerak dari nafsu. Karena ruh kita ini Zat Allāh yang ditiupkan di alam arwah dan telah lebih dulu bersaksi akan ketuhanan Allāh sebelum ruh ini bernafsu dan berjasad. Ruh kita bahkan sudah berjanji akan ketaatan dalam keesaan beserta Allāh.

 

وَإِذۡ أَخَذَ رَبُّكَ مِنۢ بَنِىٓ ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمۡ ذُرِّيَّتَہُمۡ وَأَشۡہَدَهُمۡ عَلَىٰٓ أَنفُسِہِمۡ أَلَسۡتُ بِرَبِّكُمۡ‌ۖ قَالُواْ بَلَىٰ‌ۛ شَهِدۡنَآ‌ۛ أَن تَقُولُواْ يَوۡمَ ٱلۡقِيَـٰمَةِ إِنَّا ڪُنَّا عَنۡ هَـٰذَا غَـٰفِلِينَ

[Ingatlah], ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allāh mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka [seraya berfirman]: "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul [Engkau Tuhan kami], kami menjadi saksi". [Kami lakukan yang demikian itu] agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami [bani Adam] adalah orang-orang yang lengah terhadap ini [keesaan Tuhan]." [Q.S. Al-A`rāf (7):172]

Bagaimana caranya mengesakan diri beserta Allāh melalui ruh ini?
Dengan melaksanakan perintah ibadah syariat. Hukum syariat diberlakukan agar setiap muslim, baik dengan suka maupun terpaksa, selalu esa beserta Allāh.  Kepahaman paripurna akan definisi tauhid sebenarnya ini akan diraih juga pada akhirnya setelah kita bahas tahap demi tahapnya sampai di penutup buku ini. InsyaAllāh. Bi-iznillāh.

 

Seisi dunia-akhirat tidak mengesakan Allāh pun, Allāh tetaplah Esa.



ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬ا‌ۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَـٰمَ دِينً۬ا‌ۚ

Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu menjadi agama bagimu. (Q.S. Al-Maidah [5]:3)

Agar keyakinan Islam kita tidak mudah terinfeksi pemikiran teologi dan filsafat buta; agar keyakinan Islam kita terjaga dari kelalaian ulama yang memfatwakan “semua agama itu sama”, perlu kita memantapkan pemahaman tentang tauhid. Oleh sebab itu, mari kita lakukan pengkajian lebih mendalam mengenai apa perlunya memahami tauhid sehingga kita raih makna tauhid yang sebenar-benarnya.


Apa Perlunya Memahami Tauhid?

Mungkin pernah timbul pertanyaan seperti ini dalam hati Anda: mengapa kita musti ber-Islam dengan kepahaman tentang ilmu tauhid (makrifat)? Apakah dengan bersyariat saja tidak cukup?

Jawaban atas pertanyaan Anda di atas sudah sejak awal Allāh jawab dengan firman-firman-Nya berikut ini:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Q.S. Aḏ-Ḍāriyāt [51]: 56)

Menurut Ibnu Abbas r.a.—ahli tafsir yang hidup sezaman dengan Nabi Muhammad Rasulullahﷺ dan diakui keakuratan tafsirnya oleh Rasulullahﷺ sendiri—kata يَعۡبُدُونِ (ya`budūni, ‘menyembah-Ku’) berakar pada kata  ﻳﻌﺮﻓﻮﻥ (ya`rifūni) yang artinya mengenal-Ku. Inilah dasar argumentasi bahwa menyembah itu wajib dengan mengenal Yang Disembah; bahwa melakukan penyembahan tanpa mengenal Yang Disembah itu sia-sia; bahwa ber-Islam hanya mengandalkan syariat saja tidak cukup.

Pesan sublim ayat di atas ialah isyarat bahwa menyembah itu wajib dengan mengenal Yang Disembah; bahwa melakukan penyembahan tanpa mengenal Yang Disembah itu absurd, konyol, tidak masuk akal, dan sia-sia; bahwa ber-Islam hanya mengandalkan syariat saja tidak cukup.


وَمَن كَانَ فِى هَـٰذِهِۦۤ أَعۡمَىٰ فَهُوَ فِى ٱلۡأَخِرَةِ أَعۡمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلاً۬    

Dan barangsiapa yang buta [hatinya] di dunia ini, niscaya di akhirat [nanti] ia akan lebih buta [pula] dan lebih tersesat dari jalan [yang benar]. (Q.S. Al-Isrā`[17]:72)

Isi ayat tersebut mengisyaratkan bahwa sesungguhnya orang yang selama di dunia mata hatinya buta dari mengenal akan Allāhﷻ, keadaannya di akhirat kelak akan sangat mengerikan. Mengerikan seperti apa? Seperti dikabarkan oleh Rasulullāhﷺ dalam hadis panjang berikut ini:



“Wahai Rasulullāh apakah kita akan melihat Rabb kita pada hari kiamat?”

Maka Nabiﷺ bersabda,
“Apakah kalian merasa bahaya bila melihat matahari yang tidak ada mendung di bawahnya?”

Mereka berkata,“Tidak, wahai Rasulullāh!”

Lalu Rasulullāhﷺ bersabda,
“Apakah kalian merasa bahaya bila melihat rembulan pada malam purnama yang tidak ada mendung dibawahnya?”,

Mereka berkata, “Tidak, wahai Rasulullah!”
Rasulullāhﷺ bersabda,
“Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya kelak pada hari kiamat, demikian Allah akan mengumpulkan manusia lalu berfirman,
‘Barang siapa yang telah menyembah sesuatu maka ikutilah dia.’
Maka orang yang menyembah rembulan mengikuti rembulan dan yang menyembah matahari mengikuti matahari serta yang menyembah para tagut mengikuti para tagut — dan tinggallah umat ini yang terdapat di dalamnya orang-orang mukmin, lalu Allahﷻ datang kepada mereka dengan selain Wujud yang kalian kenal, Allah berfirman,’Aku adalah Rabb kalian.

Maka mereka berkata,
‘Kami berlindung kepada Allāhﷻ darimu, ini adalah tempat kami sampai Rabb kami datang kepada kami dan jika Rabb kami telah datang kepada kami, maka kami mengenal-Nya.’

Rasulullāhﷺ bersabda,
Lalu Allahﷻ datang kepada mereka dengan Wujud yang mereka kenal dan berfirman:
‘Aku adalah Rabb kalian.’ Mereka berkata, ‘Engkaulah Rabb kami.’ Maka mereka mengikuti-Nya.

”Rasulullahﷺ bersabda,
“Dan diletakkan sebuah jembatan di atas Jahannam, Maka aku adalah orang yang pertama kali melewatinya, dan doa para Rasul ketika hari itu adalah: ‘ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.’ [H.R. Ahmad Nomor 7392]


Mengenai potongan isi hadis yang ini:
‘Barang siapa yang telah menyembah sesuatu maka ikutilah dia.’
Maka orang yang menyembah rembulan mengikuti rembulan dan yang menyembah matahari mengikuti matahari serta yang menyembah para tagut mengikuti para tagut.


ada informasi dari pembimbing tauhid penulis, Alm. K.H. Undang Sirad sebagai berikut:
“Di padang mahsyar kelak, Allāhﷻ akan memunculkan lafaz ﷲ di hadapan umat manusia. Dan segera segolongan besar manusia yang selama di dunia menyembah lafaz berbondong-bondong memburunya dan tidak sadar ketika hampir sampai mereka terjerumus ke jurang neraka.”

Nauzubillāhi min zalik!

Beliau juga mengatakan, “Jika selama di dunia seseorang memandang Allāhﷻ sebagai keluarbiasaan, serta merta Allāhﷻ pandangkan di suatu penjuru sesuatu yang amat indah memukau. Manusia-manusia lalu berbondong-bondong memburunya. Ketika sampai, rupanya subjek yang luar biasa indah itu adalah seorang malaikat yang memang Allāh tetapkan sebagai malaikat paling indah di seantero alam. Serta-merta pula sang malaikat melaknat para manusia yang mau menyembahnya dan “membantai” mereka habis-habisan hingga semua orang itu tercebur ke neraka.”

[Tentu ini juga peringatan keras bagi kalangan mujassimah dan musyabbihah yang berkeyakinan bahwa Allāhﷻ itu berwajah, bertangan, berkaki, dan ada di langit duduk di singgasana Arsy]

Nauzubillāhi min zalik!


Informasi dari pembimbing tauhid penulis di atas tentu tidak wajib diterima sebagai kebenaran mutlak. Anda boleh percayai atau tidak. Boleh Anda angguki atau tidak. Kita hanya meraih hikmah bahwa jangankan surga-Nya, hendak meniti ṣiraṭal mustaqim-Nya saja tidak gratis. [Silakan kaitkan lagi dengan ayat Q.S. Al-Isrā`[17]:72 di atas]

Sampai pada tahap ini mudah-mudahan setiap muslim akhirnya menyadari betapa pentingnya tauhid bagi kita dunia-akhirat. Betapa urusan akidah ini bukan urusan sepele, bukan main-main. Sebelum meyakini salat itu ibadah yang menjadi sebab keselamatan dunia-akhirat, wajib kita mengenal apa-siapa-bagaimana yang kita ibadahi itu. Wajib.

Mengenal Wujud Allāhﷻ akan kita kupas tuntas pada catatan selanjutnya. InsyaAllāh. Bi-iznillāh. Sementara ini, kita pegang saja terlebih dahulu bahwa pengertian tauhid sebenar-benarnya ialah mengesakan segala sesuatu, termasuk diri kita, kepada Allāhﷻ.


Disarikan dari Ilmu Sedikit untuk Segala²nya: Dasar-Dasar Tauhid Hakiki [ISBN 978-602-7323-52-0]

Tag: IlmuTauhid,
1361 Lihat