[4] MENGENAL PAHAMAN YANG TERTOLAK UṢUL TAUHID: JABARIYAH-QADARIYAH

Terkirim 2 tahun yang lalu di Pendidikan.

[Seri Sebenar Islam] - Aliran-aliran filsafat yang menyusup ke dalam akidah Islam inilah yang sering merusak pahaman makrifat yang berdasarkan wahyu.

[4] MENGENAL PAHAMAN YANG TERTOLAK UṢUL TAUHID: JABARIYAH-QADARIYAH

Salāmun`alaikum,

 

JABARIYAH (FATALISME)

Pemahaman Jabariyah menghilangkan perbuatan dari hamba secara hakikat dan menyandarkan perbuatamn tersebut kepada Allâhﷻ. Paham Jabariyah ini dapat kita wakilkan pada kalimat sederhana berikut ini:

"Segalanya bersumber dari Allâh, maka segala-galanya sudah serba Allâh semuanya. Maka segala perbuatan makhluk pun hakikatnya perbuatan Allâh." Nauzubillah.

Salah satu dalil yang dipakai sebagai dalih:
"Tuhan menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat." (Q.S. Aṣ-Ṣaffat:96)

Ujung-ujungnya:
Perbuatan maksiat juga itu perbuatan Allâh. undecided

Padahal ada ayat ini:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
"Allâh mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya." (Q.S. As-Syam:8-10)

Kesalahpahaman kaum Jabariyah:
Padahal maksud Tauhidul Af`al Allâh (Keesaan Perbuatan Allâh) itu maksudnya bahwa segala sesuatu yang kita pandang, pikir, dan rasa itu, semuanya adalah hasil dari perbuatan Allâh mencipta. Bukan lalu disimpulkan perbuatan kita juga perbuatan Allâh. Di sinilah letak salah kaprahnya.

------------------------------------------------
Contoh fatal:

Orang ini menyembah Allâh melalui barang pusaka sebagai wakil perwujudan Allâh. Nauzubillahi min zalik!Orang ini menyembah Allâh melalui barang pusaka sebagai wakil perwujudan Allâh. Nauzubillahi min zalik!



------------------------------------------------



QADARIYAH (KEHENDAK BEBAS) | VARIAN: MU`TAZILAH

Pemahaman Qadariyah meyakini manusia mempunyai kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya (baik maupun buruk) tanpa keterlibatan Allâh sama sekali. Pemahaman qadariyah dapat kita wakilkan pada kalimat sederhana berikut ini.

"Allâh sudah menciptakan segalanya. Setelah itu Allâh "menganggur", tidak terlibat dengan segala perbuatan manusia. Yang taat masuk surga, yang maksiat masuk neraka."

Salah satu dalil yang dipakai sebagai dalih:
“Kerjakanlah apa yang kamu kehendaki sesungguhnya Ia melihat apa yang kamu perbuat.” (Q.S. Fuṣṣilat:40).

Padahal ada ayat ini:
يَسْأَلُهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ
"Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan." (Q.S. Ar-Rahmān [55]: 29).

Kesalahpahaman kaum Qadariyah/Mu'tazilah:
Dia mengangkat gelas lalu berkata, "Ini yang mengangkat gelas aku, bukan Allâh."

Kaum yang berpikir seperti ini lalai dan kufur nikmat sebab tidak disadarinya bahwa tangan dia bisa bergerak dan mengangkat gelas itu karena ada karunia Allâh berupa ruh sehingga jasad bisa bergerak.



HUBUNGAN TUHAN-HAMBA MENURUT UṢUL TAUHID


من عرف نفسه فقد عرف ربه
Barang siapa mengenal dirinya, kenallah ia akan Tuhannya.

Perkataan `arif billāh itu tampaknya disalahpahami oleh para penggagas aliran Jabariyah maupun Qadariyah. Mereka pikir diri yang dimaksud di atas itu diri nafs (alias nafsu = ego = ke-aku-an = kehendak bebas).

Padahal yang dimaksud `arif billāh dengan perkataan itu adalah bahwa pada setiap manusia ada tiga diri, yaitu
1. diri ruh (Al-Insān:1, Al-Ḥijr:29. Al-A`rāf:172, Aż-Żariyāt:20-21),
2. diri nafs,
3. diri jasad,

dan yang wajib dikenal itu diri ruh sebab ruh ini Zat Allâh/Nur Ilahi/Cahaya Tuhan yang diamanahkan pada bani Adam. Sebab melalui ruh inilah datangnya petunjuk Ilahi dan hanya melalui ruh jugalah untuk mengenal sebenar-benar Tuhan.

"Dan tidak ada dari seorang manusia pun bahwa Allâh akan berbicara kepadanya, kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang hijab atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan izinnya apa-apa yang dikehendakinya. Sesungguhnya dia maha tinggi dan maha bijaksana. Dan demikianlah kami wahyukan kepadamu ruh dari perintah kami. Sebelumnya kamu tidak mengetahui apakah kitab (Al-Quran) itu dan apakah iman itu, akan tetapi kami jadikan dia sebagai nur (cahaya). Kami memberi petunjuk dengan cahaya itu orang-orang yang kami kehendaki dari kalangan hamba-hamba kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, yaitu jalan Allâh, yang kepunyaan-Nyalah apa-apa yang ada di langit dan apa-apa yang ada di bumi. Ingatlah kepada Allâh-lah kembali segala urusan." (Q.S. Asy-Syura: 51-53).

Kalau hanya berfokus mengenal diri nafsu, jadilah kita kaum kebingungan seperti Jabariyah dan Qadariyah di atas. Pemahaman yang haq bercampur dengan yang batil sehingga tidak jelas lagi mana batas haq dan mana batas bail.

Kalau hanya berfokus mengenal diri nafsu, paling jauh pahaman manusia hanya berujung pada surga dan neraka. Surga imbalan bagi nafsul mumainah dan variannya, neraka ganjaran bagi nafsu lawwamah dan variannya.

Padahal tujuan penciptaan itu untuk mengenal Allâh, bukan untuk masuk surga--lolos neraka.

كنت كنزا مخفيا فأردت أن أُعْرَفَ فخلقت الخلق فبي عرفوني
“Aku adalah khazanah tersembunyi. Aku berkehendak untuk dikenal maka Kuciptakan makhluk sehingga dengan-Ku mereka mengenal-Ku.” (Hadis Qudsy)



"Orang yang menyembah surga, ia mendambakan kenikmatannya, bukan mengharap Penciptanya. Orang yang menyembah neraka, ia takut kepada neraka, bukan takut kepada Penciptanya." (Syaikh Abdul Qadir al-Jailani dalam Kitab Faṭur Rabbani wal Faiḍur Rahmāni)

Orang Islam wafat dibacakan:
Inna lillāhi wa inna ilaihi rāji`ūn
Dari Allâh kembali ke Allâh.

bukan

Inna lillāhi wa inna jannati rāji`ūn
Dari Allâh kembali ke surga.

Itu sebabnya dalam tauhid, pahaman dan amalannya diarahkan agar kita ini hidup berdirikan ruh (sebagaimana teladan Rasulullah Saw.), bukan berdirikan nafsu.

 


PENUTUP

Jabariyah dan Qadariyah dikategorikan sebagai aliran filsafat dalam Islam. Padahal Islam itu agama, bukan filsafat. Islam itu agama, bukan teologi.

Agama berdasarkan wahyu. Teologi berdasarkan filsafat ketuhanan. Sesepuh filsafat saja tahu bahwa agama itu berbeda dengan filsafat.

Aristoteles, "Ada empat jalan menuju kebenaran, yaitu
1) agama,
2) filsafat,
3) ilmu pengetahuan, dan
4) sastra.

Aliran-aliran filsafat yang menyusup ke dalam akidah Islam inilah yang sering merusak pahaman makrifat yang berdasarkan wahyu.

Aliran-aliran filsafat yang menyusup ke dalam akidah Islam inilah juga yang dijadikan senjata oleh kaum anti-takwil untuk mengharamkan mendalami ilmu makrifat, padahal ilmu tauhid itu hukumnya fardu `ain (wajib prioritas) bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan yang sudah balig.

Pahaman-pahaman filsafat yang menyusup ke agama (Islam) tidak hanya dua macam. Namun, sengaja di sini disampaikan dua saja yang paling popular menjadi perdebatan dalam pembicaraan terkait akidah.

Allâhua'lam.

 

 


Disarikan dari Ilmu Sedikit untuk Segala²nya: Dasar-Dasar Tauhid Hakiki 
ISBN: 978-602-7323-52-0

 

Tag: SebenarIslam,
2207 Lihat